Pemimpin Surabaya Berpolemik, Tujuh Panitia Dipanggil Kemendagri

Foto: Ant

Surabaya, Sayangi.com – Kepemimpinan di Surabaya masih belum stabil. Ini disebabkan adanya ‘polemik’ soal terpilihnya Wakil Wali Kota Surabaya yang baru terpilih, Wisnu Sakti Buana. Dikabarkan, Wali Kota Surabaya tidak setuju dengan pengangkatan Wisnu sebagai pendampingnya.

Untuk menyikapi polemik tersebut, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri terpaksa memanggil tujuh anggota panitia pemilihan Wakil Wali Kota Surabaya. Apalagi pemilihan Wisnu dinilai tidak prosedural.

“Iya benar, Kemendagri mengundang Anggota Panlih (panitia pemilihan) agar menyelesaikan polemik wawali yang terjadi hingga saat ini,” kata Ketua DPRD Surabaya M. Machmud di Surabaya, Kamis (6/2/2014).

Surat Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri dengan Nomor 005/445/OTDA tertanggal 5 Pebruari 2014 isinya mengundang agar tujuh anggota Panitia Pemilihan (Panlih) Wakil Wali Kota Surabaya ke Jakarta pada Jumat (7/2/2014) untuk menyelesaikan polemik wawali.

Menurut Machmud, undangan rapat di Dirjen Otoda itu sebagai upaya penyelesaian persoalan pemilihan wawali. Dengan begitu nantinya sudah tidak ada lagi ganjalan dan saling tuding kesalahan di antara anggota Panlih yang juga anggota DPRD Surabaya.

Ia mengakui bahwa datangnya surat undangan dari Dirjen Otoda kepada seluruh Anggota Panlih cukup mendadak. Hampir seluruh anggota Panlih hari ini sedang menjalankan kunjungan kerja ke luar daerah.

“Untuk itu, tujuh anggota Panlih Pilwawali Jumat 7 Februari 2014 berangkat memenuhi undangan Dirjen Otoda tanpa terkecuali. Saya berharap masalah ini bisa cepat selesai agar warga Surabaya tidak menjadi korbannya,” katanya.

Adapun tujuh anggota Panlih Pilwawali DPRD Surabaya terdiri dari Eddy Budi Prabowo (Fraksi Partai Golkar), Fatkurrohman (FPKS), Sudirjo (FGabungan), M Syaifi (FPKB), Sudarwati Rorong (FPDS), H Junaidi (FPD), dan Adi Sutarwiyono (FPDIP).

Hal sama juga dibenarkan Sekretaris Panlih, Sudirjo. Ia mengatakan pihaknya belum menerima undangan dari Kemendagri tersebut.

“Tapi saya sudah dengar itu. Mungkin surat itu klarifikasi. Surat pertama kita kan belum dibalas.