Orang Marah Kirim SMS ke SBY, Menyebutnya Pembawa Sial

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Jabatan Presiden, di manapun, memang jabatan yang rentan hujatan. Termasuk jabatan Presiden SBY yang telah memimpin Indonesia selama 9 (sembilan) tahun. Ia juga mengalami suka-duka dan pahit-getirnya perlakuan dari rakyatnya yang galau, marah, dan sejenisnya.

Seperti curhatnya di buku “Selalu Ada Pilihan” yang dinukil sebagian oleh laman Sekretariat Kabinet, SBY menyebut, “Ketika ada kejadian yang memberikan dampak kurang baik bagi sebagian kalangan masyarakat kita, ataupun ada keputusan dan kebijakan yang saya ambil sebagai Presiden, atau pun pula ada keadaan yang tidak menyenangkan sebagian rakyat kita, apa yang diucapkan dan disampaikan kepada saya sering luar biasa keras dan kasar.”

Menurut SBY, tanggapan tak menyenangkan itu memang tak banyak, tapi cukup nyelekit. Apalagi setelah komentar-komentar miring itu diangkat oleh media massa, banyak sahabat SBY yang prihatin dan marah dengan kekasaran yang diterimanya. SBY menunjuk contoh sejumlah makian dan sumpah serapah yang sempat dikirimkan lewat SMS kepadanya dan Ani Yudhoyono. SBY yakin, siapapun yang membacanya akan menilai kata-kata itu sebagai keterlaluan.

“SBY, semoga Tuhan mengutukmu. Biar pesawat yang Anda tumpangi jatuh,” kirim seseorang yang merasa kecewa dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. “Jika permintaan kelompok kami tidak dipenuhi, akan saya kerahkan rakyat untuk membakar Jakarta, serta menyerbu dan menghancurkan Istana Negara,” ancam SMS yang lain, karena merasa tidak ada kepastian untuk menjadi pegawai negeri tetap.

Atau ini: “Dasar penakut. Lebih baik Anda mundur dari presiden,” ucap seseorang yang mengaku dari kalangan perguruan tinggi tertentu, yang kecewa dengan keputusan pemerintah yang tidak memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Bahkan ada yang mengirim SMS ini: “SBY itu manusia pembawa sial, dan merusak,” ucap seseorang yang bergerak di dunia paranormal, tetapi juga di wilayah politik, yang secara pribadi sebenarnya SBY mengakui tidak memiliki permasalahan dengannya.

Kata-kata yang menghunjam tajam itu bukan hanya dari anggota masyarakat. Tapi kalangan DPR, elit politik dan pengamat, juga seringkali menyampaikan pernyataan yang teramat kasar, curhat SBY. SBY mencontohkan, ketika ada konsultasi antara pemerintah dengan DPR-RI berkaitan dengan rencana kenaikan harga BBM pada tahun 2008 lalu, ada seorang anggota DPR yang juga pengurus dari fraksi partai tertentu, yang menghadiahkan serangan pedas kepadanya.

“Pemimpin itu berkewajiban menyejahterakan masyarakat. Bukan seperti ini, zalim kepada rakyat,” kenang SBY atas ucapan anggota DPR yang ketika itu disampaikan dengan berapi-api.

Uniknya, masih kata SBY di bukunya, pada masa bakti keduanya sebagai presiden, justru tokoh politik yang pernah menyebutnya zalim itu diangkatnya menjadi menteri. “Sebenarnya saya tidak pernah lupa akan dampratan pedas yang menyakitkan itu. Tetapi, saya selalu melihat ke depan,” kata SBY sembari menyebutkan, dengan menjadi menteri, tokoh politik itu kini mengerti apa yang dipikirkan dan dilakukan oleh seorang presiden. Bahkan ia juga mengerti betapa tidak mudahnya mengambil keputusan dan menetapkan kebijakan yang paling tepat atas berbagai permasalahan yang kompleks.

SBY juga mengemukakan, ada orang yang sangat kecewa karena ingin menjadi sesuatu tetapi tidak ia penuhi. Orang ini dengan mudahnya mengecam dia di hadapan seseorang, dan kemudian seseorang itu meneruskannya kepada dirinya. Mau tahu apa yang dikatakannya? “Jangan harap Anda mendapatkan jabatan itu. Semuanya serbauang. Kalau saya mau memberi 30 miliar rupiah, saya pasti jadi,” begitu ucapan orang tersebut, cerita SBY. Tapi dia menambahkan, itulah kehidupan.

Meskipun sudah memahami kenapa ia dan keluarga diperlakukan seperti itu, tetapi SBY mengakui, kadang ia suka merenung. “Pernah terlintas di pikiran saya, apakah hanya saya yang dibeginikan. Tetapi, akal saya segera bekerja. Dari apa yang saya ketahui dan pelajari, ternyata saya bukan satu-satunya yang menderita secara batin seperti itu. Bahkan, mungkin ada pemimpin lain yang tidak kalah dalam hal pengorbanan dan penderitaan yang mesti dialami,” pungkasnya. (MSR)