Terkait Nelayan Merauke, Polda Janji Tak Akan Tinggal Diam

Ilustrasi foto: buzznet.com

Jayapura, Sayangi.com – Sikap tentara Papua Nugini (Papua Nugini Deference Force/PNG DF) yang membakar kapal dan barang-barang milik nelayan Indonesia asal Merauke, Papua, sungguh disayangkan. Terlebih, mereka juga meminta para nelayan itu berenang ke pos perbatasan terdekat yang jaraknya berkilometer, di tengah kondisi cuaca buruk.

Kepada Kantor Berita Antara, Komandan Lantamal XI Merauke Brigjen TNI (Marinir) Buyung Lalana menyatakan, selain dari laporan lima nelayan Merauke yang selamat, laporan juga datang dari anggota TNI yang bertugas di pos perbatasan yang ada di Torasi. Brigjen Buyung Lalana mengatakan, dari laporan yang diterima memang tanggal 6 Februari anggotanya sempat melihat kobaran api dari menara suar di Torasi, sehingga dapat dipastikan apa yang dilaporkan dan dialami para nelayan itu betul adanya.

Sepuluh nelayan yang bermukim di Lampu Satu Merauke itu ditangkap tentara PNG saat berada di kawasan gugusan karang di perbatasan RI-PNG untuk mencari teripang. Mereka ditangkap tentara PNG bersenjata lengkap, kapal bersama barang-barang milik nelayan tersebut langsung dibakar, sedangkan para nelayan diperintahkan berenang ke pos perbatasan milik TNI-AL yang berjarak sekitar 5 km. Dari 10 nelayan, lima di antaranya hingga saat ini belum diketahui nasibnya dan masih terus dicari tim SAR.

Sementara itu, Polda Papua menyatakan tak akan tinggal diam terhadap tindakan tentara Papua Nugini (PNG) yang membakar kapal nelayan saat sedang mencari ikan di laut perbatasan. Apalagi mereka juga memaksa sepuluh nelayan untuk berenang menuju pos perbatasan. Kabid Humas Polda Papua Sulistyo Pudjo sangat menyesalkan tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut. Mestinya persoalan pelanggaran batas wilayah itu diselesaikan menurut hukum yang berlaku.

Dia mengaku sudah melaporkan kejadian ini ke Konsul PNG di Indonesia, untuk minta klarifikasi pihak negara tetangga. (MSR)