Bima Arya: Militansi Bisa Mengalahkan Politik Sembako

Foto: Sayangi.com/Emil

Wali Kota Bogor terpilih Bima Arya Sugiarto adalah contoh politisi muda yang tak mau terjebak dalam praktik politik transaksional. Dalam wawancara dengan wartawan Sayangi.com Eman MG, usai acara Dies Natalis Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (19/2), Bima menuturkan kiatnya memenangkan Pemilihan Wali Kota Bogor beberapa waktu lalu. Kuncinya adalah kerja keras, kerja cerdas, dan kerja sama. Tiga hal itu, katanya,  membuat ongkos politik menjadi lebih murah.

Berikut petikan wawancaranya.

Selain harus dikenal masyarakat, apa modal utama dalam berpolitik?
Modal utamanya adalah 2 K. Pertama, karakter atau integritas. Kedua, kompetensi. Karakter tanpa kompetensi akan merugikan, dan kompetensi tanpa karakter juga akan merugikan.

Kecenderungan politisi sekarang adalah punya modal kuat dulu baru bertarung. Bagaimana menurut Anda?
Kuat itu harus kita definisikan dengan tepat. Tidak penting kuat secara finansial, tetapi lebih penting dua hal tadi. Karakter yang kuat dan kompetensi yang baik. Soal finansial, dalam beberapa kasus banyak politisi bermodal kuat tapi bisa dikalahkan.

Bisa cerita bagaimana kiat memenangkan Pilwakot Bogor, padahal kompetitor Anda adalah incumbent yang secara politik dan modal terbilang lebih kuat?
Saya membaca tanda-tanda zaman bahwa perubahan adalah isu yang sangat diminati oleh warga Kota Bogor akibat persoalan-persoalan yang mendera mereka selama ini. Yah sederhana saja, saya menawarkan perubahan dan pemilih tampaknya mempercayai itu.
Selain itu, saya melihat ada satu tren positif bahwa kelas menengah itu semakin kuat. Bahwa kelas menengah itu tidak terbeli oleh sembako, tidak terbujuk oleh money politik, dan mereka militan secara politik dalam menentukan pilihannya. Semua itu terbukti mampu mengalahkan elemen-elemen lain yang bisa terbeli oleh sembako.

Untuk melawan politisi bermodal besar dan kuat, apa saran Anda?
Saya menyarankan tiga hal. Pertama, kerja keras dalam arti harus mau jatuh bangun, harus mau kerja lebih dahulu dari awal. Seperti pengalaman saya, sudah bekerja lebih dari tiga tahun lalu. Yang lain masih tidur di rumahnya, saya sudah tidur di rumah warga. Kedua, kerja cerdas karena kemenangan itu selalu dituntun oleh strategi, dituntun oleh survei, dan oleh prinsip-prinsip strategi politik modern. Harus dilakukan dengan prinsip low cost high impact atau bagaimana dengan dana yang sekecil mungkin kita mampu meyakinkan pemilih. Sehingga pada giliranya dengan kerja cerdas ini, semua pencapaian kita bisa terukur. Ketiga, kerjasama. Saya membangun team work yang sangat kuat, membangun militansi dengan sangat serius. Orang yang militan akan membuat biaya pilkada itu lebih murah tentunya.

Bagaimana agar apa yang Anda lakukan bisa menjadi contoh bagi calon pemimpin lain?
Ada pemikiran, di Bogor kami akan membangun semacam museum pilkada Kota Bogor. Kita berharap masyarakat bisa belajar dari apa yang kami lakukan saat pilkada. Bahwa saat ini pemenangnya adalah kandidat yang menggunakan pola partisipasi, bukan mobilisasi. Mobilisasi itu mahal ongkosnya dan belum tentu efekif.

Jika terbentuk pemerintahan baru setelah pemilu, Anda bersedia diajak bergabung di kabinet?
No way. Saya sudah bersumpah untuk membangun Kota Bogor. Saya akan jalankan amanah itu sampai 5 tahun masa jabatan. Soal ke depan saya tetap berpegang pada prinsip satu per satu, kita bicara dulu lima tahun saya mengabdi di Bogor. Setelah itu semuanya sudah ada yang mengatur, yaitu yang di atas.

Kalau menolak, bukankah itu namanya melepas peluang politik?
Tantangan terbesar bagi setiap politisi di Indonesia adalah bagaimana bisa menjadi negarawan dengan menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi, kelompok atau partai. Kalau tidak kuat, kita bisa kalah oleh tekanan-tekanan kepentingan jangka pendek dan kepentingan kelompok itu.

Melihat fenomena politik transaksional saat ini, Anda yakin demokrasi kita bisa berkembang lebih baik?
Saya lihat regenerasi kita berjalan dengan baik dan terutama pemilih kita menjadi semakin cerdas. Semakin bisa menentukan masa depannya sendiri berdasarkan hal-hal yang rasional. Nurani itu tidak bisa dibohongi. Tinggal bagaimana orang-orang yang mengemban amanah seperti itu jangan ditingalkan dan dibiarkan berjalan sendiri. Saya sendiri tidak mau ditinggalkan, maka saya terus bergaul dengan kampus dan berkawan dengan teman-teman dari LSM supaya bisa saling menjaga.

Di PAN, partai Anda, bagaimana Anda melihat kader-kadernya?
Saya kira di semua partai problemnya sama. Ada yang baik, ada juga kader yang tidak memiliki karakter dan kompetensi. Itulah tantangannya, dan karena itu diperlukan perkaderan dan seleksi kader.