PLN Terpaksa Gunakan BBM untuk Pembangkit Listrik

sayangi.com/doc

Jakarta, Sayangi.com – PLN terpaksa menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pembangkit listrik. Biaya produksi pun menjadi lebih besar jika dibanding memakai energi dasar dari batubara dan gas. Perubahan harga minyak yang signifikan membuat PLN harus mengeluarkan kocek lebih besar.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara Adi Supriono kepada Sayangi.com, di Jakarta, Minggu (2/2).

Sepanjang tahun 2013, PLN menghabiskan 7,47 juta kiloliter BBM untuk seluruh pembangkit listriknya di Indonesia akibat terhentinya pasokan gas untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Belawan pada Juli 2013.

Jumlah tersebut lebih tinggi 12.000 kiloliter dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) perubahan yang diajukan perseroan.

Oleh sebab itu, tahun ini PLN akan lebih fokus konversi energi dari BBM ke batubara dan gas sebagai salah satu bentuk penghematan.

PLN menargetkan mengurangi pemakaian gas menjadi 6,4 juta kilo liter atau dikuraingi 1 juta kilo liter dari tahun 2013.

“Jadi kita bisa hemat sekitar Rp10 triliun,” kata Kepala Divisi Gas dan BBM Suryadi Mardjoeki.

Pada tahun 2013, realisasi konsumsi batubara meleset dari 49 juta ton menjadi 44 juta ton. Suryadi mengatakan tahun 2014, PLN menargetkan konsumsi batubara sebesar 55 juta ton.

“Ini yang harus kita perjuangkan karena melesetnya batubara itu pasti dampaknya ke pemakaian BBM, karena pasokan gas sangat terbatas. Jadi harus berjalan semaksimal mungkin,” kata Suryadi.

“Kita mengejar FTP I. Target PLTU tahun ini nggak boleh mundur. Kalau mundur konsekuensi penggunaan batubara akan menurun,” tambahnya.

“Diharapkan tambahan 2000 MW untuk tahun ini,” ujar Suryadi.

Sementara untuk pemakaian gas, PLN menargetkan konsumsi gas sebesar 431 trillion British thermal units (TBtu) meningkat dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 410 TBtu.

Pemakaian energi gas ini kemudian dikembangkan PLN melalui teknologi Compressed Natural Gas (CNG) shipping.

Teknologi tersebut menyimpan gas lapangan (gas pipa) ke dalam bentuk CNG, sehingga dapat dibawa dalam volume yang sesuai dengan kapal ke lokasi yang membutuhkan dan diserap sesuai pola kebutuhan operasi pembangkit gas. Tidak seperti gas pipa yang memerlukan pembangunan pipa.

“Ini solusi untuk daerah yang nggak punya gas seperti Batam dan Lombok misalnya,” ujar Suryadi. (MD)