Tak Jadi Perang Ukraina, Harga Minyak Turun

enerjienstitusu.com

New York, Sayangi.com – Harga minyak dunia mundur pada Rabu (5/3 pagi WIB dari lonjakan hari sebelumnya, karena ketegangan atas krisis Ukraina berkurang, menurunkan kekhawatiran tentang potensi gangguan pasokan.

Kontrak berjangka AS minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, turun 1,59 dolar AS menjadi ditutup pada 103,33 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman April, kontrak utama Eropa, jatuh 1,90 dolar AS menjadi 109,30 dolar AS di IntercontinentalExchange di London .

Pada Senin, WTI telah ditutup pada tingkat tertinggi sejak September dan Brent berakhir di puncak untuk sejauh tahun ini.

Harga minyak melonjak pada Senin di tengah pertikaian sengit antara Rusia dan Barat atas Ukraina, di mana pasukan yang didukung Kremlin memiliki kontrol de facto di semenanjung Krimea sejak akhir pekan lalu.

Namun pada Selasa, minyak berjangka mundur karena Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan saat ini “tidak perlu” untuk mengirim pasukan ke Ukraina.

“Dengan Rusia menarik kembali pasukannya yang berpartisipasi dalam latihan militer di perbatasan Ukraina dan komentar-komentar lebih lunak dari Putin, pasar komoditas telah menyerahkan kembali keuntungan mereka kemarin,” analis Morgan Stanley mengatakan dalam catatan pasar.

“Sementara kami perkirakan premi risiko Rusia memudar, kami akan berhati-hati terhadap kepuasan yang begitu awal.” Dengan memproduksi lebih dari 10 juta barel per hari pada Januari, Rusia bersaing dengan Arab Saudi sebagai produsen minyak mentah terbesar di dunia, dan merupakan produsen terbesar kedua gas alam.

Lebih 70 persen dari ekspor gas dan minyak Rusia ke Eropa melewati Ukraina.

Pedagang juga sedang menunggu laporan persediaan minyak mingguan Departemen Energi AS (DoE) pada Rabu, “dengan ekspektasi asumsi pemeliharaan berkala meningkatkan stok minyak dan produk-produk jatuh,” kata Matt Smith dari Schneider Electric.

Pasokan minyak mentah komersial di Amerika Serikat, konsumen minyak mentah terbesar, diperkirakan telah meningkat sebesar satu juta barel dan produk-produk sulingan, termasuk minyak pemanas, telah jatuh sebesar dua juta barel, menurut analis yang disurvei oleh Dow Jones Newswire. (MD/Ant)