Nina Tamam: Pemimpin ke Depan Harus Tegas dan Tidak Memperkaya Diri

Foto: Istimewa

Menyenangkan adalah kata yang kami pilih untuk memberi kesan kepada penyanyi kelahiran Surabaya ini, yang bernama lengkap Nuraini Sukoningrum Tamam. Sempat populer dengan nama Nina Warna (saat masih menjadi personel Kelompok Vokal Warna), sekarang kita lebih mengenalnya dengan Nina Tamam.

Selain punya suara merdu, Nina ternyata sangat ekspresif dan lugas dalam menyampaikan pendapat. Sebagai mantan penyiar radio dan sering menjadi pembicara dalam beberapa talkshow di televisi, ia punya pandangan kritis terhadap mutu pertelevisian Indonesia saat ini. Putri musisi senior Tamam Husein ini juga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan pandangan yang tajam tentang sosok pemimpin Indonesia ke depan. Semua itu tergambar saat wawancara dengan wartawan Sayangi.com Gayatri A.A. Berikut petikannya.

Bagaimana pendapat atau kesan tentang kepemimpinan nasional yang akan berlalu pada 2014 ini?
Menurut aku pribadi, 5 tahun pertama Pak SBY oke. Tapi kayaknya 5 tahun kedua ini sudah mulai harus bayar hutang kepada para pendukungnya. Jadi yaa 5 tahun terakhir ini agak mengecewakan.

Bayar hutang bagaimana maksudnya?
Jadi menurut aku, ketika SBY dulu mencalonkan diri jadi presiden, pasti banyak banget yang support dia entah itu finansial ataupun politikal. Karena Pak SBY tuh terlalu banyak hutang terhadap orang, pihak atau apapun itu, 5 tahun ini Presiden kita menjadi galau dalam pemerintahannya. Aku sampai hafal sekali setiap ada kejadian apa Presiden kita hanya berkata “Prihatin”.

Apa harapan untuk pemimpin ke depan?
Harapannya harus lebih tegas. Bisa bilang “tidak” terhadap apapun atau siapapun yang menindas Indonesia. Seperti sumber daya alam kita yang dikuras habis oleh negara lain, padahal negara kita sendiri kekurangan. Aku sih pinginnya pemimpin bisa melindungi resources kita, sumber daya kita, entah itu sumber daya alam ataupun sumber daya manusia. Seperti kasus TKI yang banyak dianiaya di luar sana, menteri kita tidak bisa berbuat banyak, karena presidennya tidak terlalu peduli. Jadi ya mari kita mencari pemimpin yang benar-benar sayang pada negara dan rakyatnya, jangan hanya memperkaya diri sendiri atau golongan dan partainya.

Bagaimana pandangan terhadap pemimpin perempuan?
Ih… setuju banget. Tapi pemimpin perempuannya juga harus tegas. Tidak boleh ngambek-an, terganggu dengan hormon PMS ataupun Menopause, hehehe. Hmm, buat aku sih pemimpin mau perempuan atau laki-laki intinya harus tegas aja dan sekali lagi harus sayang pada negaranya.

Kalau Indonesia dipimpin perempuan, kira-kira kriterianya bagaimana?
Yaitu tadi intinya harus tegas. Seperti Jokowi-Ahok gitu kan, Ahoknya bisa tegas tentang Busway dan Monorail yang ternyata baru terlihat keburukannya setelah sekian lama ditutup-tutupi. Pokoknya menurut aku ya, pemimpin itu mau perempuan atau laki-laki, atau setengah-setengah itu gak masalah. Asalkan bener dia bisa tegas dan sayang pada negaranya. Setiap orang yang akan jadi nomor satu pasti banyak yang mau men-support dia. Nanti setelah orang itu jadi orang nomor satu dan ingin melakukan sesuatu yang idealis, bisa saja terhalang oleh orang-orang yang dulu mendukungnya. Nah dalam hal ini, pemimpin harus bersikap tegas dan berani mengatakan “Tidak!” untuk kesejahteraan rakyatnya. Sampai sekarang sih aku sedih ya liat Freeport, itu punya kita loh, tapi dikeruk habis habisan oleh negara lain.

Oke, ini pertanyaan terakhir. Kalau Mbak Nina diberi kesempatan menjadi menteri, kira-kira ingin jadi menteri apa dan kenapa?
Hmm, komunikasi deh kalau aku. Menkominfo itu loh. Lihat aja ya sekarang televisi dan radio gak ada yang bener isinya. Apalagi TV lokal itu dari pagi sampai malam gak mendidik dan formatnya sama semua. Gemes aku liatnya, sampai suka emosi sendiri. Jadi ya mungkin pingin aja kalau jadi menteri komunikasi itu ngurusin penyiaran, apa yang boleh tayang apa yang nggak.