Pengembangan Bambu Menjadi Agenda Utama Sleman

commons.wikimedia.org

Sleman, Sayangi.com – Upaya pengembangan potensi ekonomis bambu di Kabupaten Sleman merupakan agenda besar bagi seluruh instansi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Karena itu diperlukan komitmen bersama dari swasta dan masyarakat agar pengembangan tanaman bambu dari hulu hingga ke hilir dapat terealisasi, terkoordinasi dan terintegrasi,” kata Kabag Humas Setda Kabupaten Sleman Endah Sri Widiastuti, Minggu (23/3).

Menurut dia, di Sleman terdapat dua sentra industri bambu yang memiliki perbedaan produk yakni di Sendari Kecamatan Mlati merupakan salah satu sentra kerajinan bambu yang memfokuskan pada produk furniture.

“Sedangkan Dusun Brajan, Sendangagung, Kecamatan Minggir merupakan sentra produk anyam-anyaman bambu,” katanya.

Ia mengatakan, di luar kedua wilayah tersebut cukup banyak masyarakat Sleman yang memiliki mata pencaharian di bidang kerajinan bambu.

“Sebagai gambaran pada akhir 2012 di Sleman terdapat 1.759 unit usaha yang mengelola kerajinan bambu, yang terkonsentrasi di Mlati, Moyudan, Minggir dan Godean. Jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 3.497 orang dengan nilai investasi sekitar Rp10 miliar lebih dan nilai produksi sebesar Rp13 miliar lebih,” katanya.

Endah mengatakan hasil dari industri kerajinan bambu tersebut juga telah menembus pangsa pasar dunia.

Sedangka Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan kabupataen Sleman Widi Sutikno mengatakan kebutuhan bambu untuk pemenuhaan bahan baku kerajinan sekitar 850.000 batang per tahun, sedangkan kemampuan produksi sekitar 700.000 batang/tahun.

“Kawasan yang potensial untuk pengembangan budidaya bambu adalah tanah milik dan tanah negara. Pada tanah milik bambu akan dibudidayakaan pada tanah tandus, tegal, pekarangan, semak belukar dan bantaran sungai,” katanya.

Sedangkan pada tanah negara bambu akan dibudidayakan pada tanah kas desa dan “Sultan Ground”.

Ia mengatakan, langklah awal untuk Kabupaten Sleman lahan penanaman bambu seluas 30 hektare dengan sebaran lokasi di Kelompok tani Sumber Rejeki Kalitengah Lor Glagaharjo Cangkringan tiga hektare, kelompok tani Maju Makmur Kopeng Kepuharjo Cangkringan delapan hektare, Kelompok tani Jago Mandiri Jragung Jogotirto Berbah empat hektare dan Kelompok tani Cipto Makmur Petung dan Kaliadem Kepuharjo Cangkringan 15 hektare.

“Jenis bambu yang dikembangkan meliputi Petung, Wulung dan Apus. Tanamaan bambu tersebut dapat berfungsi sebagai penyerap tenaga kerja, konservasi sumber daya alam, sosial ekonomi masyarakat dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama petani/perajin,” katanya. (MD/Ant)