Kerugian Kebakaran Hutan Rp 10 T, Kadar Emisi Belum Dihitung

Foto: Antara

Bengkulu, Sayangi.com – Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar mengatakan bahwa emisi akibat kebakaran hutan di Riau masih dihitung.

“Masih dilakukan penghitungan, yang jelas kerugian material mencapai Rp 10 triliun,” katanya usai menghadiri pembukaan rapat kerja teknis (rakernis) Pemantauan Kualitas Air Sungai se-Indonesia yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup, di Bengkulu, Senin (24/3).

Ia mengatakan, secara nasional, sumbangan terbesar emisi gas rumah kaca memang dihasilkan dari sektor kehutanan di mana lahan gambut termasuk di dalamnya.

Untuk mengelola penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari degradasi dan deforestasi hutan dan lahan gambut, pemerintah sudah menerbitkan Perpres No.62/2013 tentang Badan Pengelola Penurunan Emisi GRK dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut.

Sementara itu, Deputi V Kementerian LH Bidang Penaatan Hukum Sudariyono menambahkan bahwa saat ini masih dilakukan pengumpulan bahan dan keterangan dari pihak-pihak yang terindikasi kuat membakar hutan di Riau.

“Pekan lalu sudah kami tetapkan empat perusahaan yang diduga melakukan pembakaran lahan di Provinsi Riau,” katanya.

Empat perusahaan yang terindikasi itu adalah TKW, RML, SG dan RUJ. TKW dan RUJ adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha Hutan Tanaman Industri, sedangkan RML dan SG mengusahakan perkebunan kelapa sawit.

Ia mengatakan pada 2013 terdapat tujuh perusahaan yang terindikasi kuat membakar hutan Riau.

Kasus tujuh perusahaan itu, tambahnya, sudah diserahkan ke Kejaksaan Agung.

Asap akibat pembakaran lahan di Riau beberapa waktu lalu, sempat membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus turun langsung untuk memimpin penanganannya.(AN/GWH)