Bupati Kudus Wajibkan Anak Buahnya Gunakan Bahasa Jawa

Foto: musthofa-bupati.com

Kudus, Sayangi.com – Bupati Kudus Musthofa mewajibkan pegawai pemerintah setempat dan lingkungan pendidikan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa setiap Rabu untuk memotivasi generasi muda memakai bahasa daerah itu.

“Dengan adanya penggunaan bahasa Jawa setiap Rabu, diharapkan bisa mendongkrak minat generasi muda untuk menggunakan bahasa Jawa agar lebih lancar,” ujarnya setelah deklarasi penggunaan bahasa Jawa di Pendopo Kabupaten Kudus di Kudus, Selasa (25/3).

Menurut dia, penggunaan bahasa Jawa cukup penting, terutama terkait dengan kepribadian dan sopan santun antarsesama.

Ia mengatakan setiap kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu, harus diupayakan menggunakan bahasa Jawa.

Harapannya, kata dia, generasi muda memiliki jiwa toleransi yang cukup tinggi.

“Setidaknya, cara berkomunikasi yang berlangsung lebih santun dan tidak lagi bersikap anarkis,” ujarnya.

Saat deklarasi itu, sejumlah pejabat yang memberikan sambutan juga kesulitan untuk menggunakan bahasa Jawa untuk kategori kromo.

Guru Bahasa Jawa dari SMP Negeri 2 Dawe Sulikin menyambut positif deklarasi bahasa Jawa karena bisa meningkatkan semangat para pelajar agar lebih sering menggunakan bahasa daerah itu dengan baik dan benar.

Selain itu, kata dia, deklarasi tersebut juga turut meningkatkan semangat para guru, terutama guru Bahasa Jawa karena mata pelajaran tersebut mulai menjadi perhatian pemerintah.

Dalam sepekan, kata dia, mata pelajaran Bahasa Jawa memiliki alokasi waktu selama dua jam.

“Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa, para pelajar juga harus menerapkannya di lingkungan keluarga,” ujarnya.

Kendala yang sering terjadi, kata dia, lingkungan keluarga maupun lingkungan bermain para pelajar kurang mendukung dalam menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar.

Hal itu, kata dia, terlihat dari kemampuan para pelajar dalam berbahasa Jawa hanya terbatas ngoko, sedangkan ngoko halus maupun kromo masih kurang.

Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa, katanya, perlu ada sejumlah kegiatan maupun perlombaan yang menuntut pesertanya menggunakan bahasa Jawa.

Sejauh ini, kata dia, di Kudus sudah berulang kali digelar perlombaan khusus bahasa Jawa.

Ia berharap, keluarga juga ikut mendukung dalam memasyarakatkan penggunaan bahasa Jawa, terutama ngoko halus maupun kromo.

“Masyarakat Jawa secara tidak langsung juga membentuk karakter bangsa ini, karena dalam kesehariannya menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar dalam beraktivitas,” ujarnya.

Dalam pengucapannya, kata dia, bahasa Jawa memiliki aturan yang secara tidak langsung membentuk kepribadian mereka.

Apalagi, kata dia, dalam berbahasa Jawa ada istilah tata krama atau tingkat penuturan pada bahasa, yang dalam praktiknya tata krama juga berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang.(AN/GWH)