Jelang Satinah Dihukum Pancung, Ratusan Siswa Gelar Doa Bersama

Gresik, Sayangi.com – Ratusan siswa dari SMU Nahdatul Ulama Kabupaten Gresik, Jawa Timur menggelar doa bersama untuk Satinah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terancam hukuman mati pada 3 April 2014 di Arab Saudi, karena didakwa membunuh majikan dan mengambil hartanya.

Wakil Kepala Humas SMA NU Gresik, Kasdi Siswoyo, Rabu (26/3/2014) mengatakan, gelaran doa bersama ratusan siswa adalah bentuk kepedulian terhadap Satinah, sebab dia adalah warga negara Indonesia yang juga perlu bantuan doa.

Selain itu, pagelaran doa juga mengajarkan siswa peduli terhadap masalah sosial bangsa, sehingga akan mengasah kepekaan siswa terhadap masalah lingkungannya.

Kasdi menjelaskan, tiga hal yang mendasari kegiatan doa bersama adalah, Satinah adalah manusia dan merupakan warga Indonesia serta beragama Islam.

“Satinah adalah orang Indonesia dan beragama Islam, sehingga tidak ada salahnya bila kita juga bantu, karena yang bisa kita lakukan hanyalah beroda agar Satinah selamat dari hukuman pancung,” katanya.

Dalam kegiatan yang digelar di Aula sekolah itu, ratusan siswa juga membacakan surat yang ditujukan kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang isinya meminta agar SBY mempunyai kepedulian membantu warganya yang terancam hukuman pancung.

“Surat untuk presiden ini akan kita kirimkan ke Jakarta secepatnya, dan mudah-mudahan bisa didengarkan, serta saudara kita Satinah selamat dari hukuman pancung,” katanya.

Sebelumnya, Satinah terancam hukuman mati pada 3 April 2014, karena didakwa membunuh majikan dan mengambil hartanya.

Ia juga telah mengakui perbuatannya di pengadilan Arab Saudi, serta dipenjara sejak 2009 dan mengalami tiga kali penangguhan hukuman mati, sedangkan pihak keluarga korban meminta tebusan setara Rp21 miliar.

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, sebelumnya mengatakan upaya banding hingga surat SBY kepada Raja Saudi sudah dilakukan dan menghasilkan pengampunan dari Raja.

Namun sesuai dengan aturan hukum di Saudi, pengampunan dari pihak keluarga merupakan kunci yang penting agar warga negara Indonesia itu lepas dari hukuman mati.

“Raja Saudi sebenarnya telah memberikan pemaafan pada yang bersangkutan, tetapi di Saudi Arabia yang berlaku adalah pemaafan dari keluarga korban. Ini yang menjadi kendala utama, pemerintah sudah beri ampunan, namun (harus melalui) 100 persen (pengampunan) dari keluarga korban,” katanya.

Tim yang dibentuk oleh pemerintah untuk menangani masalah hukum yang dialami warga negara Indonesia di Saudi Arabia, juga berulangkali menemui keluarga korban dan membicarakan masalah uang pengganti atau diyat, namun angka yang diajukan pihak keluarga dinilai tidak masuk akal.

“Secara tradisional, permintaan diyat, sekitar harga 100 hingga 150 ekor unta kalau kita perhitungkan sekitar Rp1,5 sampai Rp2 miliar itu angka-angka secara konvensi atau adat,” kata Djoko. (MIAnt)