Keluarga Majikan Satinah Bersedia Terima Diyat 5 Juta Riyal

Foto: setkab.go.id

Yogyakarta,sayangi.com– Ada kabar gembira buat masyarakat di tanah air, khususnya keluarga Satinah binti Jumadi Ahmad (40 tahun), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, yang terancam eksekusi mati karena didakwa membunuh majikannya, Nurah binti Muhammad Al Gharib.

“Keluarga majikannya telah menyatakan bersedia menerima diyat yang ditawarkan pemerintah, asal ada tambahan sebesar 1 juta riyal lagi, sehingga genap menjadi 5 juta riyal,” kata Kepala BNP2TKI Gatot Abdullah Mansyur, usai meresmikan Sentra Usaha TKI Purna di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Kamis (27/3).

Pemerintah Indonesia, kata Gatot, berharap kepada keluarga ahli waris Nurah binti Muhammad Al Gharib tidak mengubah deal atau kesepakatan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dan keluarga korban. Ia menyebutkan, dengan kesepakatan itu maka pelaksanaan hukuman pancung yang semestinya dilaksanakan 3 April ini bisa ditunda selama dua tahun lagi.

Gatot menjelaskan, saat ini uang diyat untuk Satinah sudah ada 4 juta riyal yang dititipkan ke Baitul Maal Pengadilan Umum Buraidah, Arab Saudi. Uang tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sebesar 3 juta riyal, 500 ribu riyal dari Asosiasi Perusahaan Jasa TKI (Apjati) dan 500 ribu riyal dari para dermawan di Arab Saudi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, keluarga Nurah binti Muhammad Al Gharib semula menuntut diyat sebesar 15 juta riyal. Pemerintah lalu melakukan berbagai upaya diplomasi, baik melalui Kemenlu, Satgas TKI/WNI di KJRI Jeddah dan KBRI Riyadh, Presiden SBY berkirim surat kepada Raja Arab Saudi, serta pengiriman utusan untuk menemui keluarga korban dan kepala suku dari keluarga korban. Dari upaya itu, pihak keluarga korban bersedia menurunkan tuntutan diyat menjadi 7 juta riyal.

Menurut Gatot, seperti dikutip situs resmi sekretariat kabinet setkab.go.id, sesuai deal terakhir dengan ahli waris korban di Riyadh, asal ada 1 juta riyal untuk menggenapi menjadi 5 juta riyal dan bisa diserahkan kepada keluarga korban, maka vonis qishas bisa diperpanjang 2 tahun lagi.

Gatot mengungkapkan, uang sebesar 1 juta riyal untuk menunda hukuman pancung Satinah itu dibawa oleh mantan Menteri Agama Maftuh Basyuni yang diutus Presiden SBY ke Arab Saudi. Setelah itu akan segera diserahkan ke Baitul Maal Pengadilan Umum Buraidah, sehingga hukuman pancung bisa ditunda selama dua tahun ke depan.

“Pemerintah berharap keluarga korban bersedia mengambil uang diyat Satinah sebesar 4 juta riyal di Baitul Maal Pengadilan Umum Buraidah itu. Informasi terbaru, keluarga korban bersedia mengambil jika sudah ada tambahan sebesar 1 juta riyal lagi, sehingga genap menjadi 5 juta riyal,” kata Gatot.

Kepala BNP2TKI mengajak masyarakat berdoa agar Satinah bebas dari pemancungan, juga mendoakan agar keluarga korban setelah menerima diyat sebesar 5 juta riyal kemudian memaafkannya, dan tidak meminta lagi sisa diyat Satinah sebesar 2 juta riyal.