Ini 2 Puisi Fadli Zon Yang Dianggap Sindir PDIP dan Jokowi

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta,sayangi.com– Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon dalam sepekan ini membuat dua buah puisi yang di-posting di akun twitternya @fadlizon. Satu puisi berjudul “Air Mata Buaya” dan satu puisi lainnya berjudul “”Sajak Seekor Ikan” yang ditulis pada Sabtu (29/3).

“Sajak Seekor Ikan” bercerita tentang seekor ikan akuarium yang dibeli dari tetangga sebelah. Warnanya merah, kerempeng dan lincah. Ketika ikan itu melompat ke sungai, terbawa arus hingga ke laut. Begitu sampai di laut, bertemu ikan hiu, paus, dan gurita. Lalu jadi santapan ringan penguasa samudera.

Di berbagai media sosial ramai dibicarakan bahwa puisi-puisi Fadli Zon ini merupakan bentuk sindiran terhadap elit PDIP dan Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden dari PDI Perjuangan.

Cara Fadli menyindir Jokowi melalui puisi, juga dikaitkan dengan puisi “Boleh Bohong Asal Santun” yang dibacakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto, saat kampanye terbuka Partai Gerindra di Gelora Bung Karno pada 23 Maret 2014. Puisi “Boleh Bohong Asal Santun” dianggap oleh banyak kalangan sebagai sindiran Prabowo terhadap Jokowi.

Fadli Zon sendiri tidak mau menyebutkan, saat ditanya puisinya itu ditujukan untuk siapa. Fadli hanya senyum-senyum dan menjawab: “Hehehe.”

Berikut dua puisi yang ditulis Fadli Zon

“Sajak Seekor Ikan”

Seekor ikan di akuarium Kubeli dari tetangga sebelah
Warnanya merah Kerempeng dan lincah
Setiap hari berenang menari
Menyusuri taman air yang asri
Menggoda dari balik kaca
Menarik perhatian siapa saja
Seekor ikan di akuarium
Melompat ke sungai bergumul di air deras
Terbawa ke laut lepas
Di sana ia bertemu ikan hiu, paus dan gurita
Menjadi santapan ringan penguasa samudera

Fadli Zon, 29 Maret 2014.

“Airmata Buaya”

Kau bicara kejujuran sambil berdusta
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam
Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah
Kau bicara persatuan sambil memecah belah
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan
Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita
Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama
Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata
Air mata buaya
Fadli Zon, 26 Maret 2014