Hujan Buatan Berhasil, Kabut Asap di Riau Berkurang

Foto: AFP

Pekabaru,sayangi.com– Polusi asap di Pekanbaru terus berkurang ditandai dengan indeks pencemaran yang saat sekitar 77 yang berarti dalam status “Sedang”. Jarak pandang pada Minggu (30/33) pukul 07.00 WIB di Pekanbaru mencapai 3 kilometer, sedangkan di Pelalawan 1 kilometer karena masih terganggu asap.

Secara umum gangguan kabut asap di beberapa daerah di Riau mulai menurun, seiring berhasilnya modifikasi cuaca melalui penebaran garam untuk membuat hujan buatan.

Berdasarkan data Satgas Tanggap Darurat Asap Riau di Pekanbaru, Minggu, jumlah titik panas (hotspot) hasil pantauan satelit NOAA-18 hanya menunjukkan satu titik panas di Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis. Jumlah tersebut menurun jauh dibandingkan laporan sehari sebelumnya yang mencapai 121 titik.

Sedangkan hasil pantauan satelit Terra dan Aqua masih mencatat ada 18 titik panas di Riau. Perinciannya, di Kabupaten Kepulauan Meranti ada 1 titik, Bengkalis (3), Indragiri Hilir (8), Indragiri Hulu (2), Pelalawan (2), dan Siak (2).

Satgas Darat di lapangan juga melaporkan masih ada 14 titik kebakaran besar yang perlu segera dipadamkan.

Akibat masih adanya kebakaran di sejumlah titik itu, menyebabkan kualitas udara di sejumlah daerah justru memburuk akibat polusi asap.

Indeks pencemaran udara di daerah Bangko Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan angka 315, Duri Field (334) dan Kandis (374). Semakin tinggi angka indeks pencemaran berarti polusi asap yang mengandung partikel debu atau PM10 makin berbahaya bagi manusia, dan angka indeks melebihi 300 berarti polusi mencapai level “Berbahaya”.

“Bisa jadi titik panas tidak terlihat satelit karena pengaruh asap pekat. Ada tiga daerah yang polusinya berbahaya, yakni di Bangko, Duri Field dan Kandis,” ujar Kepala Divisi Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo.

Indeks pencemaran di Kabupaten Siak mencapai angka 211, yang artinya dalam polusi “Sangat Tidak Sehat”. Sedangkan empat daerah masuk kategori “Tidak Sehat” yakni Petapahan, Libo, Duri Camp, dan Minas.

Meski begitu, polusi asap di Kota Pekanbaru terus berkurang

“Cuaca di Riau pada umumnya berawan, peluang hujan ringan hingga sedang terjadi hampir di seluruh wilayah Riau,” ujarnya.

Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menambahkan, penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan terus dilakukan untuk memadamkan api dan asap di Riau.

Sejak 5 Maret hingga sekarang, lanjutnya, TMC sudah dilakukan 40 kali sorti penerbangan dengan menaburkan total 93 ton garam (NaCl) di awan-awan di Riau.

“TMC telah banyak menghasilkan hujan. Pada Sabtu (29/3) kemarin hujan turun di Dumai, Pelintung, Tanah Putih, Kampar, Rokan Hulu, dan Pelalawan,” ujarnya.

Ia mengatakan TMC dilakukan oleh BPPT, BNPB, TNI AU dan BMKG di bawah kendali Satgas Udara dalam Satgas Operasi Terpadu Penanggulangan Bencana Asap.

Pesawat yang digunakan adalah pesawat Hercules C-130 dan Casa 212. Sekali terbang Hercules membawa 5 ton dan Casa 1 ton garam dari Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Garam memiliki sifat higroskopis yang menyerap butir-butir air dalam awan yang berukuran sangat kecil. Dengan ditaburkannya butir-butir garam maka akan terjadi tumbukan dan penggabungan butir air di dalam awan sehingga turun hujan. Tidak semua awan bisa diturunkan menjadi hujan.

Awan yang layak disemai adalah awan-awan rendah jenis Cummulus yang bentuknya menggumpal seperti bunga kol. Bahkan jika ada awan Comulonimbus (Cb) maka awan ini disemai. Awan Cb berbentuk gumpalan sangat besar dan umumnya berwarna gelap.

Awan Cb sangat berbahaya karena mengandung arus listrik dan disertai golakan udara yang dahsyat. Para pilot sangat menghindari karena fatal akibatnya bila pesawat terbang masuk ke dalam awan Cb.

“Namun dalam TMC justru awan-awan ini yang dicari untuk kemudian didekati dan disemai dengan garam. Bahkan tak jarang pesawat masuk ke dalam awan Cb,” kata Sutopo (Ant)