Kesuksesan Bersemayam di Balik Kata Kunci Mimpi dan Kerja Keras

Penulis       : M. Shoim Haris
Judul          : Mahyudin dari Sangatta ke Jakarta
Penerbit     : Choris Books Bekerjasama Cupid Yogyakarta, 2014
Peresensi   : Moh. Ilyas

Sayangi.com – “Jangan pernah takut bermimpi. Tak peduli siapa Anda, Anda akan mencapai apa yang Anda impikan tanpa kenal dari mana Anda berasal dan bagaimana Anda menjalani kehidupan masa kecil”. Kira-kira begitulah pesan penting yang tersirat dalam buku “Mahyudin, dari Sangatta ke Jakarta” ini.

Buku buah tangan M. Shoim Haris ini mengisahkan secara panjang lebar tentang sosok Mahyudin, seorang anak pedalaman Kutai Timur, atau tepatnya di Sangatta, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Di masa kecil, ia memang hanyalah buruh kasar. Ia ikut banting tulang mencari penghidupan diri dan keluarganya. Ia menjadi buruh kayu pada sawmill milik ayahnya.

Oleh karenanya, wajar bila pria kelahiran Kalimantan Timur, 8 Juni 1970 ini tak pernah berpikir jika kelak akan menjadi bagian penting pemegang sekaligus pengendali ke mana bangsa ini hendak diarahkan. Posisinya sebagai anggota Komisi VII DPR RI setelah ia mengabdi sebagai Bupati di Kutai Timur menjadikannya sebagai sosok yang punya kesempatan besar membangun negeri ini.

Bahkan, mungkin saja tak pernah terbayangkan dalam benak pikirnya jika suatu saat ia akan turut mewarnai dan bahkan menentukan arah Golkar, partai warisan Orde Baru yang membesarkan karir politiknya. Di partai ini, seperti dituturkan secara mendalam dalam buku ini, Mahyudin menjalani dinamika yang cukup alot hingga akhirnya ia ‘mengikhlaskan diri’ larut dalam kekecewaan.

Ya, dibilang “mengikhlaskan”, karena ia tidak bisa berbuat banyak setelah hanya diberi posisi sebagai Ketua Bidang Organisasi dan Daerah dalam kepengurusan DPP Partai Golkar di bawah komando Aburizal Bakrie. Padahal, Sang Ketua Umum menjanjikannya posisi orang nomor dua, yakni sebagai wakil ketua umum.

Dalam guratan kekecewaan, selalu terngiang-ngiang janji manis ARB kepada suami Agati Suli ini, “Kalau saya menang, kamu jadi wakil ketua umum.” Janji ini bukan tanpa sebab. Dialah yang pertama berkeras hati dan terus menyuarakan dorongan agar ARB maju sebagai Ketua Umum Golkar.

“Bang, tak usah ragu! Bulatkan tekad menjadi calon ketua umum pada Munas mendatang,” begitu Mahyudin meyakinkan ARB. “Saya yakin, Bang, Insya Allah kita akan menang.”

Dorongan ini membuat ARB berpikir matang-matang, hingga akhirnya ia memutuskan maju dan kemudian betul-betul memenangkan pertarungan atas tiga pesaingnya Surya Paloh, Hutomo Mandala Putra, dan Yuddy Chrisnandi.

Sayangnya, Mahyudin dan istrinya tak bisa menikmati kebahagiaan yang dirasakan ARB pasca-kemenangan ini. Mereka justru larut dalam kekecewaan, hingga akhirnya suara ‘mengalah’ pun dilontarkan Mahyudin, “Sudahlah Ma, emang kita ini siapa?”

Semangat Juang Sang Ayah

Tidak hanya kisah perjalanan panjang Mahyudin, buku setebal 280 halaman ini juga memotret kisah keluarganya, termasuk ayahandanya, Mansyur Mante. Kekayaan hikayat tersebut menjadikan buku ini semakin sarat inspirasi sekaligus motivasi, terutama tentang ‘ajaran’ kerja keras dan jiwa yang tak cepat menyerah dalam menghadapi setiap kondisi.

Setidaknya itulah yang menjadi karakter Mansur Mante semasa ia hidup. Jutaan masalah dan persoalan sudah menempa dirinya saat ia masih berada di bumi kelahirannya di wilayah Sulawesi.

Tak tahan dengan situasi di Sulawesi, ia segera memutuskan untuk ‘minggat’ ke Kalimantan. Ia meninggalkan bumi kelahirannya dengan segumpal tekad, “Suatu saat jika saya pulang, saya akan pulang dengan kejayaan”. Ia juga berbekal keyakinan, modal kemampuannya akan memudahkannya mendapatkan pekerjaan nantinya di Kalimantan.

Benar keyakinannya. Di Kalimantan, ia tak terlalu kesulitan mendapatkan pekerjaan. Hanya saja ia harus memulai pekerjaannya dari ‘bawah’ dengan segumpal ‘perjuangan’ peras keringat. Sadar dengan apa yang dijalaninya, ia bergumam, “Kalau saya berpendidikan, mungkin tak akan bernasib seperti ini.”

Berkat pengalaman hidupnya ini, ia bertekad untuk memberikan pendidikan setinggi-tingginya untuk anak-anaknya kelak. Dengan cara itu, pikir dia, kehidupan anak-anaknya akan lebih mudah.

Inilah sekelumit kisah yang diulas dalam buku ini secara runut dan sistematis, menjadikannya semakin layak dibaca. Apalagi kisah-kisah di atas diulas dengan gaya penuturan dan gaya berkisah yang khas, sehingga meskipun ia merupakan buku biografi, namun ia terasa seperti sebuah karya fiksi. Kisahnya hidup dan membuat pembacanya berusaha mengorek jutaan inspirasi yang terkandung di dalamnya. Selamat Membaca!