Boediono Marah Saat Anak Buahnya Menolak Pemberian FPJP

Foto: Ant

Jakarta, Sayangi.com – Mantan Direktur Audit Internal Bank Indonesia (BI), Wahyu akui pernah dimarahi lantaran dirinya tidak setuju dengan pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) ke Bank Century.

Hal tersebut disampaikannya saat dihadirkan sebagai saksi, dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi bail out Bank Century dan pemberian FPJP pada Bank Century dengan terdakwa Budi Mulya, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.
“Saya secara pribadi tidak setuju diberikan FPJP karena Century bermasalah. Pak Boediono agak marah,” ujar dia dalam kesaksiannya, Jumat (11/4/2014).

Alasan Wahyu tidak setuju dengan pemberian FPJP tersebut karena ada kekhawatiran akan diperiksa Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) dan Bank Century sudah bermasalah sejak awal. Karena sejak tahun 2005 sampai dengan 2008 Bank tersebut sudah mengalami permasalahan struktural, bahkan tim pengawas BI pernah merekomendasikan penuntupan bank milik Robert Tantular tersebut.

“Timwas BI malah merekomendasikan untuk menutupnya,” kata Wahyu menambahkan.

Setelah itu, Jaksa KPK sempat menanyakan sikap Deputi VII BI bidang pembayaran, pengedaran uang dan perkereditan Budi Rochadi, atas sikap marahnya Boediono. Wahyu pun menjelaskan bahwa Budi lebih pasrah, karena pemberian FPJP keputusan Rapat Dewan Gubernur. “Pak Budi sih terserah saja, karena ini keputusan RDG,” ucap dia kepada jaksa.

Sebelumnya, seperti dalam dakwaan jaksa, terdakwa mantan Deputi IV Budi Mulya, pernah meminta untuk tidak mempersoalkan kekurangan dokumen Bank Century atas syarat-syarat pemberian FPJP dari BI. Ia juga bahkan disebut meminta dukungan atas kebijakannya tersebut kepada Gubernur BI dan Direktorat Hukum BI atas sikapnya tersebut.