Anies Baswedan (1): Kepada Pendidik Kita Titip Masa Depan Republik

Foto: Sayangi.com/Emil

Anies Rasyid Baswedan Ph.D adalah salah satu sosok intelektual paling berpengaruh di Indonesia. Menjadi Rektor Universitas Paramadina pada usia 38 tahun, ia telah meraih banyak penghargaan dari dalam negeri maupun internasional. Komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain ia wujudkan melalui Gerakan Indonesia Mengajar. Lewat gerakan ini, Anies mengirim pemuda-pemuda terbaik untuk menjadi guru sekolah di berbagai pelosok negeri.

Dalam wawancara dengan kontributor sayangi.com, Annisa Prameswari, di Kantor “Turun Tangan Anies Baswedan” di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (16/4), Anies berbagi pendapat seputar pendidikan di Indonesia hingga alasannya terjun ke dunia politik dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.

Berikut petikan wawancaranya, yang kami tulis dalam dua bagian:

Bagaimana Anda memandang pendidikan di Indonesia saat ini?
Kalau kita bicara tentang sistem pendidikan itu hal yang abstrak, jadi harus jelas dulu tentang apanya yang mau dibahas. Berbicara tentang kurikulum, misalnya, itu baru jelas. Menurut saya, kita harus berani menentukan fokus pada aspek-aspek pendidikan agar anak-anak kita dapat menjadi anak yang karakternya sesuai dengan falsafah bangsa. Itu harus menjadi tujuannya. Fondasi pendidikan itu kan ada pada interaksi antar manusianya. Agar interaksi ini dapat menjadi sistematis, maka disusunlah kurikulum agar menjadi terstandar di semua tempat. Tapi, sebenarnya kurikulum itu hanya mengatur interaksi antar manusianya. Kunci untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik adalah pendidiknya. Nah kita sering kali tidak memperhatikan soal kualitas pendidiknya.

Bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas pendidik di Indonesia?
Pertama, rekrutmennya harus baik. Mereka yang menjadi pendidik kalau bisa adalah orang-orang terbaik, karena pada merekalah kita titipkan masa depan Republik ini. Wajah yang kita lihat di ruang kelas itulah adalah wajah masa depan Indonesia. Kedua, continuous improvement. Pelatihan dan teknik-teknik pengajarannya harus ditingkatkan. Ketiga, mempertahankan karakter positif yang baik pada pendidik kita. Para pendidik adalah teladan bagi siswa, sehingga mereka nantinya akan berkesimpulan inilah karakter yang harus saya miliki atau inilah karakter yang tidak boleh saya miliki.

Soal keteladanan, bisa diberikan contoh yang lebih spesifik?
Oke. Berapa banyak guru yang nanti akan diingat oleh para siswanya? Hanya sedikit guru yang dapat memberi inspirasi yang meninggalkan kesan pada para siswanya. Saya selalu berkata kepada para guru, Anda sebagai pendidik mau menjadi pendidik yang dilupakan atau diingat. Nah, hal ini yang harus dijawab oleh para guru sekarang. Para siswa nantinya tidak akan ingat lagi mengenai soal ujian, detil pelajarannya. Yang mereka ingat adalah gurunya. Kita di Indonesia sering kali melewatkan hal itu. Ketika bicara mengenai pendidikan pasti langsung kepada kurikulum, seakan-akan pendidikan its about kurikulum. Padahal kurikulum itu sebenarnya hanya menopang. Bayangkan jika kurikulumnya digonta-ganti tetapi kualitas gurunya masih sama, ya hasilnya pasti akan sama. Kalau kurikulumnya sama tetapi gurunya mengalami peningkatan kualitas, hasilnya pasti akan menjadi lebih baik. Intinya konsentrasi pada guru, tingkatkan kualitasnya, perbaiki kesejahteraannya, dan perbaiki distribusinya.

Bagaimana cara agar orang-orang terbaik tergerak hatinya untuk mau menjadi guru?
Guru adalah pekerjaan mulia, tawarkan kemuliaan itu sebagai sebuah kemuliaan. Jangan ditawarkan sebagai sebuah rupiah. Masalah selama ini, kita menawarkan pekerjaan mulia dengan rupiah. Kalau ingin mencari rupiah lebih baik kerja di gedung-gedung tinggi di Jalan Sudirman daripada di ruang kelas. Mari panggil anak-anak muda, kalau mereka ingin mengubah wajah Indonesia ayo ikut menggambar wajah Indonesia. Saya selalu mengistilahkan pendidik sebagai pelukis masa depan, karena merekalah yang akan membentuk masa depan. Mereka yang akan mempersiapkan masa depan anak-anak. Karena itu saya katakan bahwa kesejahteraan guru itu penting. Guru itu memikirkan anak-anak kita, tapi kita tidak pernah memikirkan tentang mereka. Menurut saya harus ada gerakan serius untuk menghargai guru.

Gerakan seperti apa?
Saya pernah menulis sebuah artikel di sebuah harian nasional dengan judul “VIP-kan Guru Kita”. Contohnya, kalau saya mengelola sebuah majalah, 50% saya berikan kepada guru. Ketika di Bandara guru mendapat prioritas untuk boarding lebih dulu. Jika Anda punya toko, berikan discount khusus kepada guru. Coba kita lihat CEO di perusahaan besar, tanyakan kepada mereka mungkin tidak mereka menjadi CEO kalau tidak ada guru. Kalau republik ini menghargai guru, orang akan berbondong-bondong menjadi guru untuk mengejar kemuliaannya. Karena itu mari kita turun tangan, tidak usah memberikan uang kepada guru tetapi kurangi pengeluaran guru.

Saat ini apa tantangan terbesar masyarakat Indonesia?
Menurut saya mengubah mindset para pengelola negara bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab konstitusional negara. Selama ini pendidikan dianggap sebagai sebuah program, karena itu hanya diselesaikan melalui instrumen negara saja. Menurut saya, pendidikan harus dipandang bukan sebagai program tetapi tentang gerakan.

Gerakan Indonesia Mengajar banyak menempatkan pemuda untuk menjadi guru di pelosok negeri. Apa yang melandasi gerakan tersebut?
Awalnya hanya dari diskusi tentang pendidikan, saya bilang masalahnya itu ada di guru. Lalu ada yang bertanya pada saya, mana mau orang yang terbaik jadi guru? Saya yakin betul negara kita masih punya banyak stok orang baik. Panggil orang-orang baik tersebut jangan dengan rupiahnya. Ajak mereka untuk memberikan makna pada republik ini dan akan jadi kebanggaan untuk diri anda dan anak cucu anda. Setelah saya dapat ide itu, lalu saya bicara dengan beberapa pihak yang mau mendanai dan mereka setuju. Ketika saya ditanya berapa biayanya, saya jawab gak tau karena ini baru ide. Lalu muncul tim untuk membuat rencana kerja dan biayanya. Ternyata benar, ribuan pemuda Indonesia mendaftar dalam gerakan ini.

Kenapa disebut Gerakan Indonesia Mengajar?
Walaupun pemerintah belum mengirim guru ke pelosok-pelosok daerah itu, saya selalu bilang kepada para pengajar muda: katakan bahwa kalian datang mewakili pemerintah dan negara. Tidak penting sebenarnya siapa yang mengirim mereka, yang penting di sana ada guru. Sampai kapan kita mau terus bicara Indonesia harus begini atau begitu. Lets do it, ayo turun tangan, karena itu namanya Gerakan Indonesia Mengajar.
Dengan menjadi pengajar di berbagai pelosok negeri, para pemuda ini akan mendapatkan banyak sekali pelajaran. Mereka akan menjadi pemimpin bagi para siswanya. Mereka harus dapat menyelesaikan masalah mereka sendirian. Ini salah satu leadership training yang luar biasa yang akan mereka dapatkan di pelosok-pelosok negara ini. Untuk Indonesia, nantinya kita akan memiliki stock anak muda yang memiliki kompetensi dan pengalaman kelas dunia namun hatinya tetap akar rumput.

Apakah guru-guru di sana tidak merasa tersaingi dengan kehadiran para pengajar muda ini?
Coba bayangkan, di sana satu sekolah ada 150 anak tapi gurunya hanya ada 3, apa mereka nggak senang dan terima kasih ditambah satu orang untuk membantu. Bahkan ada sekolah yang satu gurunya harus menghandle 3 kelas dalam waktu bersamaan.