Anies Baswedan (2): Saatnya Orang Baik Terjun ke Politik

Foto: Sayangi.com/Emil

Anies Rasyid Baswedan Ph.D adalah salah satu sosok intelektual paling berpengaruh di Indonesia. Menjadi Rektor Universitas Paramadina pada usia 38 tahun, ia telah meraih banyak penghargaan dari dalam negeri maupun internasional. Komitmennya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, antara lain ia wujudkan melalui Gerakan Indonesia Mengajar.

Dalam wawancara dengan kontributor sayangi.com, Annisa Prameswari, di Kantor “Turun Tangan Anies Baswedan” di bilangan Jakarta Selatan, Rabu (16/4), Anies berbagi pendapat seputar pendidikan di Indonesia hingga alasannya terjun ke dunia politik dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Berikut petikannya, yang merupakan bagian kedua dari serial wawancara Anies Baswedan.

Selama ini Anda lebih berkecimpung di dunia pendidikan, kenapa tiba-tiba mau terjun ke dunia politik?
Awalnya banyak yang bilang, Anies Baswedan itu kan bersih kok mau masuk politik yang banyak masalah. Lalu saya tanya balik, jadi yang boleh masuk politik itu hanya yang bermasalah saja. Kalau yang tidak bermasalah, tidak boleh masuk politik? Menurut saya, kita justru harus banyak memasok orang-orang baik untuk masuk ke dunia politik.

Anda tidak khawatir nanti ikut menjadi orang yang bermasalah?
Seluruh pendiri republik ini adalah intelektual. Jika mereka berpikir untuk tidak ikut terjun ke politik, kita tidak akan merdeka dan Indonesia tidak pernah ada. Para pendiri republik ini adalah kaum intelektual yang sangat terdidik tapi mereka memilih untuk berjuang. Pada masa itu mereka dianggap orang aneh. Coba bayangkan mereka sekolah di Belanda, lalu pulang ke Indonesia bisa jadi pengacara dan kaya raya. Mau ngapain mereka berpolitik?
Selama kita berpikir bahwa yang ada di dunia politik itu adalah orang yang bermasalah, maka kita tidak akan berhenti untuk berkeluh kesah. Cara berpikir mayoritas kita saat ini yang salah dan menurut saya itulah yang harus diubah. Tidak hanya dunia politik yang bermasalah, dunia bisnis dan dunia akademik pun pasti bermasalah. Orang bermasalah itu ada di semua sektor dan orang baik juga ada di semua sektor. Sekarang saatnya orang-orang baik berani menggalang kekuatan.

Mengapa pilihannya dengan mengikuti Konvensi Partai Demokrat?
Konvensi itu adalah cara yang benar dalam pemilihan presiden. Sebelum jadi capres ditanyakan terlebih dulu bagaimana track record-nya, apa yang akan dikerjakannya, apa yang selama ini dibangun baru kemudian dipilih. Hari ini kita menyaksikan orang-orang yang mendadak menjadi calon bupati atau calon gubernur bahkan calon presiden. Mereka tidak ditanyakan atau diproses lebih dulu. Maka, konvensi adalah proses yang benar dan cara yang modern untuk melakukan rekrutmen. Namun memang penyelenggaranya adalah partai yang tidak populer karena partai yang sedang populer saat ini tidak menyelenggarakan proses yang benar. Saya ikut konvensi karena saya diundang, bukan mendaftar. Ketika saya diundang, saya harus menjawab apakah saya memilih popularitas atau cara yang benar. Saya memilih cara yang benar.

Tidak khawatir, Anda akan jadi tidak populer?
Lho bukankah selama ini kita selalu mengkriktik pemimpin yang mengambil keputusan hanya untuk mengejar popularitas. Pilihan saya ini sangat tidak populer. Saya katakan berkali-kali, saya tidak takut apa yang ditulis di koran pada hari ini tapi saya takut apa yang ditulis sejarahwan di masa depan. Mereka akan melihat apakah kita memilih karena sekadar populer atau kita memilih dengan cara yang benar. Jangan kaget kalau 5 tahun yang akan datang semua partai akan mengadakan konvensi.

Tidak risau dengan opini masyarakat terhadap Partai Demokrat saat ini?
Pertama saya tidak masuk ke dalam Partai Demokrat. Saya hanya mengikuti konvensi yang diselenggarakan Partai Demokrat sebagai anggota non-partai. Saya bukan kader ataupun juru kampanye Partai. Kalau saya takut ya saya gak akan berbuat apa-apa karena saya yakin ini jalan yang benar. Opini terhadap partai bermasalah itu naik turun. Partai penguasa itu dimana-mana mengalami krisis popularitas, itu rumus dalam demokrasi. Opini orang saya gak terlalu takut, tapi saya harus mengerjakan hal yang benar. Maka saya buatlah Gerakan Turun Tangan. Saya mau melawan politik uang. Caranya, saya undang teman-teman, kalau mau berubah bantu saya tapi dengan 0 rupiah. Saya undang orang-orang untuk bantu Anies tapi saya gak bayar karena menurut saya harga diri mereka tidak dapat dirupiahkan. Akhirnya hingga saat ini sudah ada 21.000 relawan yang siap turun tangan untuk dukung Anies.

Apa yang membuat 21.000 relawan ini tergerak mendukung Anies Baswedan?
Sebetulnya mereka tidak hanya mendukung saya, tetapi mereka juga mendukung orang-orang di sekitar saya yang mereka anggap baik. Saya beranggapan korupsi dan penyelewengan yang terjadi saat ini bukan hanya karena orang jahat jumlahnya banyak, tetapi karena orang-orang baik yang mendiamkan. Anda mau diam ya silahkan, tapi kalau saya ayo turun tangan.

Apa agenda program yang jadi prioritas Anda?
Saya akan konsentrasi pada manusia, saya ingin mengembalikan konsentrasi Indonesia pada manusia. Kita seringkali hanya memikirkan infrastruktur penopang manusia, bukan manusianya yang dipikirkan. Kalau saya yang penting itu adalah sehat, terdidik, dan makmur. Untuk slogannya kita gunakan Indonesia 1945 yaitu 1 Semangat, 9 Pekerjaan, 4 Janji Kemerdekaan, dan 5 Tahun Masa Bakti.

Apa yang membedakan program Anda dengan kandidat lainnya?
Konsentrasi pada manusianya. Silahkan dicek yang lain-lain, fokusnya ada pada infrastruktur penopang manusia. Saat ini uang yang dialokasikan dari APBN untuk kesehatan hanya 2,8% bahkan selama 15 tahun terakhir tidak pernah lebih dari 3%. Kalau kita bicara tentang blok, APBN kita itu habisnya ya untuk bensinnya kita saja. Nah yang membedakan program yang saya miliki adalah saya konsentrasi pada manusianya. Kalau kita berbicara tentang manusia maka kita akan fokus pada kesehatannya dan pendidikannya. Saya percaya betul begitu sehat dan terdidik maka mereka akan mendapatkan peluang-peluang yang lebih baik.

Apa pertimbangan Partai Demokrat untuk mengundang Anda ikut konvensi?
Kalau itu harus ditanyakan kepada Partai Demokrat, bukan ke  saya. Ada 11 orang yang ikut konvensi dan saya adalah satu-satunya yang bukan siapa-siapa. Saya bukan berasal dari kader partai, bukan kerabat, bukan militer, dan bukan orang pemerintahan.

Bagaimana dengan opini di masyarakat yang kurang positif terhadap konvensi Partai Demokrat?
Saya rasa itu hanya kesalahan cara berpikir mereka. Mengapa mereka tidak bisa berpikir bahwa Anies sedang berusaha untuk memperbaiki partai. Saya juga tidak bisa memaksakan pikiran orang karena itu adalah hak mereka untuk berpikir. Nah disitu lah letak masalah kita, melihat segala sesuatunya dilihat dengan cara yang negatif dan itu yang mau saya ubah. Saya gak takut karena saya tau bahwa saya membawa pesan yang positif. Saya ingin ubah cara bermain politik kita. Saya yakin masyarakat nanti pelan-pelan akan menilai.

Bagaimana pendapat Anda terhadap hasil Pemilu Legislatif 2014 yang baru berjalan?
Melihat hasil pemilu kemarin tidak ada satu partai pun yang bisa mengajukan calon presiden sendirian, semuanya harus membangun koalisi. Nah kita lihat saja nanti prosesnya seperti apa, saya tidak bisa sebut sekarang karena pergerakannya masih terlalu dinamis.

Dengan perolehan suara Partai Demokrat pada pemilu legislatif, apakah konvensi masih tetap dilanjutkan?
Masih, baru saja dikabarkan bahwa tetap dijalankan dan perolehan suara Anies itu nomer 2 atau 3 padahal saya tidak pernah pasang iklan ataupun pasang baliho apapun.

Bagaimana pandangan terhadap perkembangan politik di Indonesia ke depan?
Saya optimis bangsa kita akan terus berubah, anak cucu kita akan memiliki cara pandang yang berbeda. Hari ini orang masih menganggap aneh dengan pihak yang melawan money politics, tapi nanti pasti akan berubah. Sama seperti pada jaman perbudakan, pasar manusia itu dianggap normal tapi sekarang sudah berubah. Contoh lain, pada jaman Belanda yang namanya tentara KNIL itu dianggap paling gagah dan sekarang apa ada cucunya bangga bahwa kakeknya adalah tentara KNIL. Saya lihat ke masa depan, Indonesia itu sedang berubah. Jaman orde baru orang bergerak karena rasa takut, hari ini orang bergerak karena rupiah, besok orang bergerak karena ide, gagasan, dan integritas. Maka saya ikut konvensi karena saya ingin mengubah rule of the game. Apa saya akan berhasil? Mudah-mudahan. Kalau kita mau bersih dulu baru berbuat, itu namanya pemimpin upacara. Kalau pemimpin perjuangan itu harus berani menghadapi masalah, karena itulah dinamakan perjuangan.

Aoa nilai-nilai keluarga yang membentuk seorang Anies Baswedan hingga seperti sekarang?
Nilainya sebenarnya beragam-ragam tapi yang pasti ketangguhan, kesederhanaan, apa adanya. Kakek saya, AR Baswedan, secara posisi dia itu pejabat tinggi tapi sampai akhir hayatnya tidak punya rumah. Rumah kami di Yogyakarta itu rumah kontrakan, tapi buku-buku di dalamnya ada sekitar 5000-6000 buah. Para pejuang itu mengurus negeri bukan menguras negeri. Saya melihat dari dekat orang-orang yang berjuang untuk republik ini karena itu saya merasa sangat memiliki republik ini. Di saat semua orang kagum dengan materi, saya tumbuh besar dengan kondisi dimana kita diajarkan untuk menghormati negeri dengan ide dan gagasan. Satu kejadian yang paling saya ingat pada tahun 1978, paman saya seorang aktivis mahasiswa hilang pada saat gerakan mahasiswa besar-besaran. Lalu waktu itu kakek saya bilang: “tidak usah khawatir, ini adalah konsekuensi orang berjuang, kalau ditangkap ya biarkan itu menjadi catatan hidupnya gak usah khawatir. Saya titipkan anak itu pada Allah.” Itulah yang dikatakan kakek saya dan kalimat singkat itu sangat menempel pada diri saya. Saya beruntung telah terlahir dalam keluarga itu sehingga saya memiliki kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana yang namanya berjuang.

Bagaimana Anda memaknai hidup ini?
Saya berusaha untuk selalu bermakna dalam segala hal. Saya selalu mengatakan kepada para anak-anak yang baru lulus kuliah atau para pengajar di Indonesia Mengajar. Anda bisa pilih jalan yang datar, menurun, atau mendaki. Saya minta mereka untuk pilih jalan mendaki karena jalan yang mendaki akan mengantarkan mereka ke puncak yang baru. Walaupun berat dan terjal tapi itu yang akan menghantarkan Anda ke puncak yang baru, dan ketika Anda sampai di sana Anda bisa memberikan makna baru.