Riwayat dan Kontroversi Hari Kartini

Jakarta, Sayangi.com – Bagi bangsa Indonesia tanggal 21 April adalah sebuah hari bersejarah, hari dimana Indonesia memperingati bangkitnya perjuangan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan melalui sosok yang dikenal dengan nama RA. Kartini.

Indonesia mengenal RA. Kartini sebagai sebagai tokoh emansipasi yang mengangkat derajat kaum perempuan Indonesia melainkan juga tokoh nasional; artinya dengan ide dan gagasannya dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara berpikirnya telah masuk ke wilayah kepentingan nasional.

Presiden Soekarno melalui Kepres Nomor 108 tahun 1964 tanggal 2 Mei menetapkan Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan dan sekaligus menetepakan tanggal lahir Kartini 21 April sebagai hari besar bagi negara Indonesia. Meskipun banyak yang menolak dan mengusulkan agar hari besar tersebut seharusnya jatuh pada tanggal 22 Desember yang bertepatan dengan hari ibu.

Lantas, siapakah RA Kartini dan apa yang diperbuatnya sehingga gelar kehormatan itu berhak diperolehnya?

Raden Ajeng kartini adalah seorang putri bangsawan (anak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara). Karena kedudukannya, Kartini semasa kecil diperbolehkan bersekolah di Europese Lagere School (ELS) hingga berusia 12 tahun.

Pada usia itu Kartini yang telah mahir berbahasa Belanda dipaksa berhenti sekolah karena harus dipingit.

Dimasa Kartini dipingitlah, ia mulai rajin berkorespondensi dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda, salah satunya Rosa Abendanon. Melalui Rosa, Kartini menyampaikan harapannya untuk memajukan perempuan pribumi yang saat itu berada pada status sosial yang rendah.

Kartini juga membaca surat kabar semarang yang diasuh oleh pieter Brooshoot, ia juga menerima Leestromel  (paket majalah) termasuk majalah wanita Belanda De Hollandsche Lilie. Kartini juga giat membaca buku karya Max Havelaar dan surat-surat cinta karya Multatuli yang kesemuanya berbahasa Belanda.

Kartini menikah dengan Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat dan menjadi istri ketiganya. Kartini melahirkan anak pertama dan terakhirnya tanggal 13 September 1904 dan beberapa hari kemudian yakni tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal dunia di usia 25 tahun.

Setelah kartini meninggal, Mr. J.H.Abedanon mengumpulkan semua surat yang pernah dkirim dan menerbitkannya sebagai sebuah buku berjudul Door Duirsternis Tot licht yang dalam bahasa Melayu berarti Habis Gelap Terbitlah Terang;Boeah Pikiran.

Surat-surat Kartini juga diterjemahakan oleh Sulastin Sutrisno dengan judul surat-surat Kartini, renungan tentang dan untuk bangsanya. Kartini dikenal dengan motonya yang sangat sederhana ’aku mau”.

Meski demikian ada kalangan yang meragukan Kebenaran surat-surat Kartini. Terlebih menurut sang penerjemah surat Kartini (almarmum Sulastin Sutrisno), jejak keturunan  J.H.Abedanon sukar dilacak oleh pemerintah Belanda.

Belum lagi kecurigaan bahwa J.H.Abedanon saat menerbitkan buku yang berisi surat-surat Kartini adalah pendukung gerakan politik etis yang sengaja merekayasa sosok Kartini sebagai bumbu politik etis kolonial di Hindia Belanda.

Bahkan ada yang menolak tanggal lahir Kartini sebagai hari besar bangsa Indonesia dengan alasan masih banyak tokoh perempuan dalam sejarah yang tidak kalah hebat semisal Cut Nyak dien, Martha cristina Tiahahu dan Dewi Sartika.

(SIS)