Inilah Nama-nama Caleg Kondang yang ‘Tumbang’ di Jabar

Foto: Sayangi.com/MI

Bandung, Sayangi.com – Menjadi tokoh kondang bukan jaminan untuk bisa dipilih rakyat. Itulah kalimat yang ramai didengar beberapa pekan terakhir, tak terkecuali di Jawa Barat.

Di provinsi dengan penduduk terpadat ini, sejumlah caleg yang sudah kondang tumbang dalam Pemilu Legislatif 9 April 2014 lalu. Beberapa nama tersebut di antaranya Nurul Arifin (Golkar), Teti Kadi (Golkar), Max Sopacua (Demokrat), MS Kaban (PBB), Alex Atmasoebrata (Demokrat), Ratih Sanggarwati (PPP), dan Didi Irawadi (Demokrat).

Nama-nama caleg kondang lainnya dari kalangan artis yang tumbang di Jabar, yaitu Sandy Nayoan (PKB), Ricky Subagja (Nasdem), Andre Hehanusa (Hanura), Ressa Herlambang (PKB), Inggrid Kansil (Demokrat), Yessi Gusman (PDIP), Iis Sugianto, Derry Drajat (Gerindra), Liza Natalia (PAN), dan Doni Damara (Nasdem).

Sedangkan dari politisi ada nama Yudi Chrisnandi (Hanura), Ajeng Ratna Suminar (Demokrat), mantan Wali Kota Cimahi Itoc Tochija (PPP), Ketua DPW Nasdem Jabar Eka Santosa, dan mantan Wakil Bupati Bandung Barat Ernawan Natasaputra.

Berdasarkan hasil rapat pleno rekapitulasi pemungutan suara DPR, DPD, dan DPRD Pemilu 2014 Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jabar di Bandung, Jumat (25/4/2014), sejumlah nama caleg kondang tersebut tidak mampu meraih suara terbanyak. Bahkan sebagian partai yang menjadi jembatan mereka tidak mendapatkan kursi di daerah pemilihan masing-masing.

Anggota DPR RI dan juga penyanyi senior Teti Kadi hanya mampu mendapatkan 40.965 suara, kalah dari teman separtainya yaitu Daniel Mutaqqien Syafiuddin, putra Ketua DPD Partai Golkar Jabar yang meraih 91.958 suara dan Dave Akbarsah Fikarno, putra dari Agung Laksono dengan 80.748 suara.

Sedangkan anggota DPR RI yang juga Wakil Ketua DPP Partai Demokrat Max Sopacua meraih 15.014, suara kalah jauh dari Anton Sukartono Suratto.

Terkait dengan fenomena tumbangnya caleg kondang ini, Pakar Komunikasi dari Universitas Pajajaran Deddy Mulyana menjelaskan terjadinya hal ini bukan karena faktor penyebab tunggal, namun terinteraksi dan terkait dengan hal lain.

“Kejenuhan masyarakat, politik uang, dan persaingan antar selebritis di daerah pemilihan yang sama menjadi faktor penyebabnya,” ujarnya.

Deddy mengatakan, masyarakat sudah jenuh dengan kondisi dan situasi yang terjadi selama ini, sehingga lebih memilih muka baru ketimbang muka lama.

“Masyarakat berkaca pada pemerintahan sebelumnya yang tidak memberikan kegembiraan untuk mereka, sehingga pilihan jatuh kepada wajah-wajah baru yang diharapkan bisa memberikan perubahan,” katanya.

Selain itu, lanjutnya politik uang yang terjadi saat Pemilu berlangsung menjadi sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

“Saya meyakini kalau politik uang memang benar-benar terjadi dan merata di seluruh daerah,” jelas dia.

Berdasarkan penelitian, lanjut Deddy, politik uang telah dianggap wajar oleh pemberi dan penerima, sehingga politik transaksional ini kerap kali terjadi pada setiap Pemilu.

“Mungkin saja artis atau politisi percaya diri tanpa memberikan uang, namun pada akhirnya kalah dari caleg yang melakukan politik uang,” katanya.

“Orang terkenal melawan orang terkenal tentunya tidak seluruhnya bisa lolos terlebih banyak caleg non selebritis yang bekerja lebih keras untuk menyaingi kepopuleran para selebritis tersebut.”