Kerja ke Luar Negeri Masih Diminati Masyarakat Indonesia

Foto: Istimewa

Malang, Sayangi.com – Berburu pekerjaan yang menghasilkan rupiah lebih besar di luar negeri agaknya masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat Indonesia ketimbang bekerja di Tanah Air dengan pendapatan yang tak seberapa, bahkan tak bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Karena berburu ringgit, dolar AS, dolar Singapura maupun real lebih mudah dan menjanjikan, pilihan dan tren bekerja di luar negeri menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari tahun ke tahun terus meningkat, apalagi kerja sama antar pemerintah (G to G) juga terus dijajaki pemerintah Indonesia dengan beberapa negara tujuan.

Kerja sama G to G terbaru dan paling banyak diminati adalah negara tujuan Korea Selatan. Penempatan TKI ke Korea atas kerja sama tersebut tahun ini diperkirakan naik sekitar 30 persen, dari 7.300 orang pada tahun 2013 menjadi 10.200 orang.

“Penambahannya cukup signifikan, yakni sebanyak 2.900 orang. Dari 15 negara yang menempatkan tenaga kerjanya di Korea, Indonesia paling banyak,” kata Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah Deputi Bidang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Dr Haposan Saragih di Malang belum lama ini.

Bahkan, begitu pendaftaran Employment Permit System-Test Of Proficiency In Korean (EPS-TOPIK) di Universitas Islam Malang (Unisma) pada 14-17 April lalu, langsung diserbu calon pekerja dari berbagai daerah di sekitar Malang dan wilayah Indonesia Timur. Dari 7.000 lembar formulir yang didrop ke Unisma, ludes dalam beberapa jam saja.

Selain di Unisma, pendaftaran tenaga kerja formal ke Korea Selatan juga di buka di empat lokasi lainnya, yakni di Solo, Jakarta, Medan, dan Bandung dengan jumlah formulir secara keseluruhan mencapai 44 ribu lembar.

Dipilihnya kerja sama antar pemerintah dengan Korea tersebut, kata Haposan karena negara itu memberikan perlindungan terhadap pekerja asecara serius dan maksimal, bahkan pekerja juga dilindungi dengan empat asuransi sekaligus, di antaranya adalah asuransi kesehatan, pensiun, tenaga kerja, dan kepulangan.

Selain itu, katanya, terjaminnya skala gaji yang lebih bagus, yakni sekitar Rp 11 juta per bulan pada tahun pertama dan akan naik setiap tahun, bahkan kalau banyak lembur bisa mencapai Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per bulan.

Ia mengatakan persyaratan untuk bekerja di sektor formal di sejumlah perusahaan di Korea juga tidak terlalu sulit karena lulusan yang dibutuhkan minimal SMP dengan usia antara 18 sampai 39 tahun. Tahun ini TKI yang ditempatkan di Korea itu bekerja di sektor manufaktur dan perikanan.

Kontrak kerja mereka selama tiga tahun, namun bisa diperpanjang dua tahun jika kinerja mereka bagus dan punya komitmen. Bahkan, yang sudah habis masa kontraknya pun bisa kembali lagi secara otomatis, dengan catatan hanya diberi jangka waktu setelah tiga bulan kepulangan dari Korea.

Daerah asal TKI paling banyak yang ditempatkan di Korea adalah dari Jawa Timur (Jatim), bahkan tahun lalu dari Ponorogo mencapai 800 orang atau sekitar 9 persen lebih dari jumlah yang diberangkatkan sebanyak 7.300 orang.

Selain Ponorogo, daerah kantong TKI Jatim yang bekerja di Korea adalah Tulungagung, Trenggalek, dan Malang. Selain Jatim, Jateng dan Jabar juga menjadi penyumbang TKI terbanyak.

Ia mengemukakan penempatan TKI di Korea yang ditanggung calon pekerja juga tidak dipungut biaya sama sekali, hanya biaya pendaftaran sebesar Rp270 ribu. “Itupun karena syarat yang diminta oleh pengembangan SDM (HRD) dari perusahaan bersangkutan,” tegasnya.

Jumlah TKI yang bekerja di Korea saat ini mencapai 35 ribu orang dengan remitensi atau uang pengiriman dari TKI sebesar Rp 1,79 triliun pada tahun 2013.

Selain Korea, katanya, kerja sama G to G dalam penempatan TKI juga dilakukan dengan Jepang dan Timor Leste untuk pekerja profesi, yakni perawat. Hanya saja, untuk penempatan tenaga perawat di Timor Leste belum ada tindaklanjutnya lagi karena pendanaan dari Bank Dunia yang selama ini mengkover kerja sama itu dihentikan.

Bahkan, kata Haposan, dalam waktu dekat ini juga akan melakukan penjajakan kerja sama G to G untuk penempatan TKI di Kanada dan Toronto dengan harapan akan semakin banyak pekerja Indonesia yang bekerja di sektor formal.

Salah seorang pendaftar TKI dengan tujuan Korea di Unisma asal Tulungagung Ardiansyah mengaku daripada dirinya menganggur dan mencari pekerjaan di Tanah Air sulit, lebih baik nekat mendaftar karena gajinya tinggi yang nantinya bisa dijadikan modal usaha.

“Tujuan saya menjadi TKI di Korea ini memang untuk mengumpulkan modal usaha, tiga sampai lima tahun kan tidak terlalu lama, toh nanti juga tetap kembali ke Tanah Air. Apalagi saya masih belum berkeluarga, sehingga tidak terlalu banyak beban, kecuali harus meninggalkan orang tua,” katanya. Ia mengaku sejak lulus SMA tahun 2011, dirinya berusaha mencari kerja di sektor formal, namun cukup sulit. Oleh karena itu, selama sekitar tiga tahun bekerja apa adanya (serabutan) dengan hasil yang tidak seberapa, hanya cukup untuk kabutuhan pangan saja,” ujar Ardi. (ant)