HIPMI Desak Pemerintah Serius Tangani Konversi Energi

Jakarta, Sayangi.com – Potensi sumberdaya gas yang cukup besar harusnya dapat dimanfaatkan untuk menunjang pembangunan domestik. Sayangnya hal tersebut masih belum terjadi karena persoalan infrastrukur energi yang tak kunjung selesai.

“Harusnya gas sebagai sumber energi yang relatif murah dan ramah lingkungan dapat dimanfaatkan secara massal oleh masyarakat. Pemerintah harus serius dan tegas soal ini,” kata Ketua BPP HIPMI Bidang Infrastruktur Bahlil Lahadalia dalam siaran pers kepada Sayangi.com, Jumat (9/5/2014).

Ia menilai pemerintah lamban dan kurang tegas dalam mengambil kebijakan. Konversi energi kata dia, seakan menjadi wacana saja, sementara beban APBN untuk subsidi terus meningkat. Oleh karenanya, pembangunan jaringan gas untuk konsumsi rumah tangga di perkotaan harus menjadi prioritas.

“Pemerintah dapat mendesak pihak pengembang untuk bersinergi menyiapkan hal tersebut, belum lagi stasiun pengisian bahan baker gas dan proses konversi di kendraan pribadi dan umum juga belum berjalan secara massif, perlu terobosan dar pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, pembangunan proyek infrastruktur gas bumi terintegrasi di Jawa Tengah ini merupakan momentum penting untuk mempercepat program konversi energi dari BBM ke Gas bumi.

“Kami berharap pembangunan pipa dari Lapangan Gas Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok dapat selesai tepat waktu, sehingga dapat menghemat biaya energi PLN,” ucap Jero.

Proyek tersebut meliputi Pipa Transmisi Kalimantan-Jawa (Kalija) yang akan diselesaikan dalam dua tahap dan Proyek Distribusi Gas Bumi Jawa Tengah yang terbagi dalam tiga koridor. Dua tahap pembangunan Pipa Transmisi Kalija itu adalah Pipa Kalija I sepanjang 207 kilometer yang menghubungkan sumber gas Lapangan Gas Kepodang ke PLTGU Tambak Lorok (PLN) dan Pipa Kalija II sepanjang 1.200 kilometer yang menghubungkan sumber gas di Kalimantan Timur ke Jawa.

Adapun tiga koridor jaringan distribusi gas bumi Jawa Tengah adalah Koridor I yang meliputi Kendal – Semarang – Demak (48 km), Koridor II: Wilayah Ungaran (34 km) dan Koridor III di wilayah Pekalongan-Solo Raya-Pati (235 km).

Menurut Jero, pada 2014, rencana alokasi gas domestik sebesar 4.560 miliar british thermal unit per hari (BBTUD) atau 57,3 persen dari total produksi, sementara di tahun 2013 alokasi gas bumi domestik sebanyak 3.774 BBTUD atau 52,6 persen.

“Pemerintah akan terus meningkatkan alokasi gas domestik sejalan dengan pembangunan infrastruktur dan meningkatnya penggunaan gas bumi di berbagai wilayah di Indonesia,” cetusnya.