Indonesia Akan Presentasikan Penerapan ITF di Yordania

Foto: Sayangi.com/Emil

Solo, Sayangi.com – Indonesia akan mempresentasikan keberhasilan penerapan kerangka kerja penargetan inflasi (inflation targeting framework/ITF) kepada pihak internasional dalam acara yang akan digelar di Yordania.

“Sekitar dua minggu lagi, kami akan memaparkan penerapan ITF di Indonesia dalam acara di Yordania,” kata Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro dalam sebuah diskusi di Solo, Jateng, Sabtu.

Ia menyebutkan Profesor Joseph Eugene Stiglitz akan menjadi salah satu panelis ketika Indonesia memaparkan penerapan ITF di Indonesia.

“Bagi saya ini mengejutkan karena sebelumnya ia termasuk yang menolak penerapan ITF,” kata Solikin.

BI menganut kerangka kerja ITF dalam melaksanakan kebijakan moneter. Kerangka kerja itu diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter.

Berdasar kerangka itu, BI secara eksplisit mengumumkan sasaran inflasi kepada publik dan kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut.

Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara “forward looking”, artinya perubahan “stance” kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan.

Dalam kerangka kerja itu, kebijakan moneter juga ditandai oleh transparansi dan akuntabilitas kebijakan kepada publik. Secara operasional, “stance” kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi.

Sementara itu Profesor Joseph Eugene Stiglitz merupakan pakar ekonomi, pengarang buku dan peraih penghargaan Nobel bidang Ekonomi (2001). Stiglitz mengajar di Graduate School of Business di Columbia University AS.

Tren Turun

Sementara itu mengenai inflasi di Indonesia, Solikin mengatakan inflasi pada triwulan I 2014 mencapai 7,32 persen (yoy) atau menurun dari triwulan sebelumnya 8,38 persen. Penurunan itu ditopang oleh menurunnya tekanan dari inflasi karena gejolak harga pangan dan inflasi inti.

“Penurunan inflasi berlanjut pada April 2014 yang tercatat deflasi 0,02 persen (mtm) atau 7,25 persen (yoy), menurun dibanding inflasi Maret 2014 sebesar 0,08 persen (mtm) atau 7,32 persen (yoy),” katanya.

Menurut dia, penurunan inflasi didorong oleh koerksi harga pangan yang tajam, terutama pada beras dan aneka hortikultura seiring dengan tingginya pasokan domestik terkait datangnya musim panen.

“Inflasi inti tetap terkendali seiring moderasi permintaan domestik, minimalnya tekanan harga dari eksternal serta ekspektasi inflasi yang tetap terjaga,” katanya.