Jokowi dan Prabowo Sama-sama Berpeluang Menangkan Pilpres

Jakarta, Sayangi.com – Joko Widodo dan Jusuf Kalla resmi mendeklarasikan diri sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang diusung oleh PDI Perjuangan, NasDem, PKB dan Hanura di Gedung Joang 45 Jalan Menteng Raya, Jakarta, Senin.

Sementara pada hari yang sama, Prabowo Subianto mendeklarasikan mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebagai pasangannya di Rumah Polonia di Jalan Cipinang Cempedak Otista Jakarta Timur yang dikenal sebagai rumah bekas kediaman Proklamator Indonesia Bung Karno.

Pasangan Prabowo-Hatta disokong oleh enam partai politik antara lain Gerindra, Golkar, PAN, PPP, PKS dan PBB.

Meskipun pasangan Prabowo-Hatta didukung oleh enam partai politik dibandingkan dengan pasangan Jokowi-JK yang hanya empat partai politik ternyata kedua pasangan tersebut sama-sama berpeluang memenangkan Pilpres 2014.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma), Said Salahudin.

“Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama-sama berpeluang memenangkan Pilpres 2014, karena modal yang dimiliki oleh masing-masing kandidat relatif berimbang,” ujar dia, seperti dikutip Antara, Senin (19/5) malam.

Ia mengatakan dari sejumlah variabel yang mempengaruhi kemenangan kandidat, Jokowi unggul atas Prabowo untuk sebagian, tetapi untuk sebagian variabel yang lain Prabowo lebih unggul atas Jokowi.

Terkait basis dukungan pemilih, menurut dia, misalnya, Jokowi punya modal dukungan dari 4 parpol yang pada Pileg kemarin dipilih oleh hampir 40 persen pemilih, sedangkan Prabowo didukung oleh 6 parpol yang dipilih oleh hampir 49 persen pemilih.

“Di kubu Jokowi, PDI-P dan NasDem saya kira akan dapat menjaga utuh suara pemilih mereka saat Pileg lalu agar tidak lari ke Prabowo. Demikian pula dengan Gerindra, PAN, dan PKS yang dapat dipastikan mampu mengkonsolidasikan pemilih mereka untuk tidak beralih ke Jokowi,” ujar dia.

Ia mengatakan Prabowo bisa lebih beruntung apabila Golkar sungguh-sungguh mendukung Prabowo, dan tidak bermain di dua kaki. Bagaimanapun harus diakui mesin Partai Golkar itu bagus sekali, seperti halnya mesin PKS.

“Empat partai berbasis massa Islam yang mendukung Prabowo menjadi keuntungan lain bagi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra itu. Sekalipun PKB mendukung Jokowi, tetapi suara nahdiyin sepertinya tidak bulat juga,” kata dia.

Hal tersebut dikarenakan tokoh-tokoh NU seperti Ketua PBNU Said Aqil Siradj, Mahfud MD, Rhoma Irama dan tokoh seni NU Ahmad Dani disebut-sebut akan mendukung Prabowo. Jadi kecenderungannya suara umat Islam akan lebih ke Prabowo.

Ia mengutarakan jika dukungan pemilih diukur dari asal cawapres Jokowi dan Prabowo, maka Jusuf Kalla (JK) cenderung akan didukung oleh pemilih dari Indonesia bagian timur, sementara Hatta Rajasa cenderung didukung oleh pemilih dari Indonesia bagian barat.

“Jumlah pemilih Indonesia bagian timur hanya sedikit lebih kecil dari pemilih di Indonesia bagian barat. Selisihnya hanya sekitar satu jutaan pemilih,” kata dia.

Kedua, terkait dengan modal finasial. Dalam soal pendanaan Pilpres, pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta juga relatif berimbang.

“Hanya saja dalam hitungan saya konglomerat yang mendukung Jokowi-JK lebih banyak daripada yang mendukung Prabowo-Hatta,” ujar dia.

Ketiga, lanjutnyan terkait dengan jaringan media. Bagaimanapun media menjadi salah satu variabel yang penting untuk mempengaruhi pemilih. Pasangan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta masing-masing punya modal itu.

“Beberapa bos media mendukung Jokowi, beberapa yang lain mendukung Prabowo. Jika kabar tentang Harry Tanoesoedibjo mendukung Prabowo itu benar, maka pasangan Prabowo-Hatta akan memiliki jaringan media yang lebih besar dari Jokowi-JK,” ujar dia.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Muhammad Budyatna mengatakan langkah Jokowi mengambil JK tepat karena akan menguatkan posisi mantan Walikota Solo tersebut di masyarakat pemilih dan parlemen.

“Dari pengalaman-pengalaman lalu, JK pasti akan kembali mengambil alih Partai Golkar lagi sehingga di DPR, Partai Golkar akan mendukung penuh koalisi PDIP” kata dia.

Sementara itu, langkah calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto mengambil Hatta Rajasa sebagai pendampingnya malah melemahkan posisi mantan Danjen Kopassus itu.

Alasan pertama, Hatta itu berasal dari Muhammadiyah. Orang NU pasti akan lari semua ke pihak Jokowi karena tidak ada satupun orang NU yang mau memilih orang Muhammadiyah seperti Hatta Radjasa.

“Jangankan wapres, menteri agama dari Muhammadiyah saja tidak akan diterima oleh NU kok,” ujar dia.

Kedua, lanjutnya, Hatta Rajasa akan menggeser suara pemilih yang menyukai Prabowo karena ketegasannya sementara Ketua Umum PAN tersebut yang merupakan besan SBY menyebabkan calon pemilih akan lari ke pasangan Jokowi-JK.

“Kita tahu sikap SBY tidak tegas sementara orang mau memilih Prabowo karena sikap tegasnya. Kok sekarang Prabowo malah memilih Hatta yang besannya SBY.Calon pemilih seperti ini juga akan lari,” ujar dia.