Chatib Basri: Pendapatan Negara Semester Satu Rp714 Triliun

Foto: Ant

Jakarta, Sayangi.com – Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan realisasi pendapatan negara hingga semester I-2014 akan mencapai Rp714 triliun, atau 43,7 persen dari target dalam APBN-Perubahan sebesar Rp1.635,4 triliun.

“Pendapatan negara didominasi dari penerimaan perpajakan yang diperkirakan mencapai Rp547,4 triliun atau 43,9 persen dari target Rp1.246,1 triliun, pada semester satu,” katanya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Kamis.

Menkeu menjelaskan faktor yang mempengaruhi realisasi pendapatan negara dari sektor perpajakan adalah rendahnya lifting minyak bumi, kenaikan tarif PPh pasal 22 impor, kenaikan produksi rokok dan cukai minuman serta perubahan komposisi ekspor CPO.

“Pencapaian penerimaan PPh migas diperkirakan lebih rendah, karena rendahnya lifting minyak. Namun, kenaikan tarif PPh pasal 22 dan produksi rokok serta cukai minuman, akan menaikkan penerimaan PPh non migas dan cukai,” katanya.

Sementara, realisasi belanja negara diperkirakan hingga semester I mencapai sekitar Rp780 triliun atau 41,6 persen dari pagu dalam APBN-Perubahan sebesar Rp1.876,9 triliun. Belanja pemerintah diperkirakan mencapai Rp494,1 triliun atau 38,6 persen dari pagu Rp1.208,4 triliun.

“Penyerapan belanja pemerintah pusat diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, karena adanya pelaksanaan pemilu legislatif dan persiapan pilpres, serta pelaksanaan program bansos bidang pendidikan dan kesehatan,” ujar Menkeu.

Sedangkan, penyerapan belanja Kementerian Lembaga diperkirakan mencapai Rp176,3 triliun atau 29,3 persen dari pagu Rp602,3 triliun, dan belanja non Kementerian Lembaga sekitar Rp317,9 triliun atau 46,9 persen dari pagu Rp678,1 triliun.

“Tingginya perkiraan belanja non Kementerian Lembaga hingga semester satu karena ada penyerapan belanja subsidi dan pembayaran bunga utang lebih tinggi, yang terjadi akibat pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS,” kata Menkeu.

Dengan demikian, defisit anggaran mencapai Rp66 triliun atau 27,3 persen dari target sebesar Rp241,5 triliun. Jumlah defisit tersebut sekitar 0,64 persen terhadap PDB atau masih jauh dari target 2,4 persen terhadap PDB. (An)