Wisata Indonesia Timur Tak Maksimal, Pemerintah Dinilai Jadi Dalang

Jakarta, Sayangi.com – Pariwisata di daerah Indonesia Timur hingga saat ini dinilai belum maksimal dalam menjaring wisatawan lokal maupun asing untuk datang ke sana. Pasalnya, meskipun promosinya cukup gencar digalakkan, namun ternyata masalah infrastuktur dan pembangunan fasilitas lainnya dinilai belum terlaksana dengan baik.

Menanggapi hal tersebut, Calon Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahdalia mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena lambannya pembangunan. Mestinya kata dia, pemerintah bertanggung jawab untuk menyediakan infrastruktur dan transportasi, sehingga menunjang pariwisata di timur Indonesia.

“Masalahnya kan ada di pembangunan di sana. Nah tanggung jawab pemerintah adalah menyediakan infrastruktur dan transportasi yang memadai dan sekaligus memudahkan. Harus diingat, bahwa penyediaan fasilitas-fasilitas umum untuk pariwisata ini adalah tanggung jawab pemerintah bukan kewajiban pihak swasta,” ujarnya di Jakarta, Selasa (8/7/2014).

Sejauh ini menurut Bahlil, sudah ada pelaporan ke pemerintah untuk proses perbaikan infrastruktur di Indonesia Timur, tapi memang belum maksimal.

“Untuk responnya sendiri memang sudah ada, namun masih 30% berjalan untuk prosesnya, karena memang membutuhkan waktu yang lama ya,” ujar Bahlil yang juga Ketua BPP HIPMI Bidang Infrastruktur dan Properti.

Seperti yang diketahui juga, pembangunan infrastuktur lebih banyak diarahkan ke bagian barat dan tengah Indonesia, sehingga untuk wilayah Indonesia Timur masih jauh dari harapan.

“Masih jauh dari harapan, karena di Raja Ampat sendiri saat ini meskipun sudah ada penerbangan perintis namun masih jarang. Kemudian di Wakatobi sendiri saya sudah pernah ke sana, namun yang masuk itu pesawatnya pesawat yang ukurannya kecil. Kemudian di Banda sendiri, yang objek wisata nasional di Maluku, itu pesawatnya juga pesawat kecil,” ujarnya.

Target selesai pembangunannya pun menurut dia, belum bisa dipastikan kapan terselesaikannya infrastruktur pariwisata di Indonesia. Karena masih sangat jauh progresnya.

“Sekarang begini, tidak bisa kita membangun, jika konsep saja yang bagus, namun tidak didukung oleh anggaran yang memadai. Itu kayak pungguk merindukan bulan saja,” jelasnya.

Bahlil mengungkapkan pentingnya konsep itu dijalankan dengan anggaran biaya yang cukup dan fokus. “Kalau itu jalan, pasti semuanya akan berjalan dengan baik juga, dan proses pembangunan pariwisatanya juga akan berjalan dengan cepat,” tutupnya.