Gencatan Senjata Gagal, Israel Peringatkan 100.000 Warga Gaza

Foto: Reuters

Gaza,sayangi.com– Israel pada hari Rabu (16/7) memberi peringatan kepada 100.000 warga Gaza untuk meninggalkan rumah-rumah mereka, namun peringatan itu diabaikan oleh sebagian besar warga.

Sementara itu, para pemimpin kawasan membuat upaya-upaya baru guna mengakhiri pertempuran yang telah berlangsung selama sembilan hari.

Israel memulai kembali serangan-serangan udara setelah upaya mewujudkan gencatan senjata yang diperantarai oleh Mesir gagal, karena Hamas menolak perlucutan senjata sebagai syarat yang diminta oleh Israel .

Pemimpin Palestina Mahmud Abbas dijadwalkan mengunjungi Kairo dan kemudian Ankara dalam upaya mendapatkan dukungan dari kawasan bagi diakhirinya pertempuran di jalur Gaza.

Sejauh ini, serangan Israel yang telah memasuki hari kesembilan telah menewaskan 209 warga Palestina.

Kelompok pendukung hak asasi manusia yang berpusat di Gaza mengatakan lebih dari 80 prosen warga yang tewas berasal dari kalangan sipil.

Pada periode yang sama, para gerilyawan telah menembakkan lebih dari 1.200 roket ke Israel, yang pada Selasa kemarin untuk pertama kalinya menimbulkan korban jiwa di pihak Israel.

Pesawat-pesawat tempur Israel sepanjang malam menggempur 40 lokasi di seluruh Gaza, di antaranya merupakan target-target politik.

Sementara itu, para gerilyawan juga meningkatkan tembakan mereka ke arah dataran perairan Israel namun empat roket dihalau jatuh di atas kota Tel Aviv.

Militer Israel juga menyebarkan pamflet-paflet serta peringatan melalui pesan singkat kepada 100.000 warga di Gaza timur laut untuk meninggalkan rumah-rumah mereka menjelang dilancarkannya serangan udara. Serangan-serangan itu menargetkan “lokasi para teroris dan mata-mata” di Zeitun dan Shejaiya, yang merupakan dua wilayah titik berkobar di timur Kota Gaza.

Pesan serupa dikirim ke Beit Lahiya di wilayah utara, berisi peringatan yang sama seperti yang disebarkan tentara Israel pada Minggu, yaitu ketika lebih dari 17.000 warga di utara mengungsi untuk menyelamatkan diri.

Sebagian besar dari mereka mengungsi ke sekolah-sekolah yang dijalankan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, demikian AFP.