Gencatan Senjata Gagal, Tank Israel Gempur Gaza Selatan

Foto: AFP

Gaza,Sayangi.com– Hanya beberapa jam setelah gencatan senjata 72 jam disepakati pada Jumat (1/8) ini, tank-tank Israel menggempur jalur Gaza bagian selatan.

Angkatan Bersenjata Israel mengatakan serangan itu sebagai tanggapan atas tembakan roket ke Kerem Shalom di wilayah mereka yang diduga dari pihak militan Palestina.

Pejabat Palestina di Jalur Gaza mengatakan sedikitnya 30 orang Palestina tewas di kota Rafah yang berbatasan dengan Mesir, di mana bentrokan hebat dilaporkan berlangsung hanya dua jam setelah gencatan senjata diberlakukan.

Sedangkan Reuters, dengan mengutip pihak rumah sakit di Rafah, melaporkan bahwa serangan Israel di Gaza Selatan itu setidaknya menewaskan 40 orang.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melansir pernyataan yang menuding militan Gaza terang-terangan melanggar gencatan senjata yang seharusnya berlangsung tiga hari.

Sedangkan juru bicara Angkatan Darat Israel Peter Lerner mengatakan, gencatan senjata 72 jam yang telah disepakati dengan Hamas batal. Ia menuding Hamas telah menculik seorang prajuritnya di tengah gencatan senjata.

“Kami melanjutkan aktivitas di lapangan. Indikasi awal kami, seorang prajurit diculik dalam sebuah insiden di mana teroris merusak gencatan senjata,” katanya, seperti dikutip AFP.

Menurut Lerner, prajurit itu hilang dalam baku tembak dengan militan Gaza yang muncul dari dalam terowongan. Salah satu dari anggota militan itu meledakkan dirinya dengan bom yang diletakkan pada ikat pinggangnya.

Pihak Hamas mengatakan bahwa tuduhan penculikan itu hanya sebuah pembenaran agar Israel bisa membatalkan gencatan senjata.

“Tuduhan itu hanya pembenaran agar Israel bisa membatalkan gencatan senjata dan menutupi pembantaian di Rafah,” kata juru bicara Hamas Fawzi Barhum.

Delegasi Israel dan Palestina semula dijadwalkan menuju Kairo untuk melakukan pembicaraan dalam rangka mengatasi perselisihan antara Israel dan Hamas. Para pejabat Amerika juga akan bergabung dalam perundingan itu. Setelah kejadian ini, tidak jelas apakah pembicaraan itu akan tetap berlangsung. (AFP/Reuters)