Israel Kembali Serang Gaza, Istri dan Anak Petinggi Hamas Tewas

Gaza, Sayangi.com – Anak dan istri pemimpin sayap militer faksi Hamas, Mohammed Deif, dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di Gaza pada Selasa (19/8/2014) malam waktu setempat.

Deputi Pemimpin Hamas di Kairo, Mesir, Mussa Abu Marzuk, mengatakan militer Israel sengaja mengincar Deif, kepala sayap militer Hamas. Namun, kata Marzuk, yang menjadi korban justru adalah anak dan istri Deif.

Belum diketahui apakah Deif dapat lolos dari gempuran Israel tersebut.

Deif, yang dituduh Israel memerintahkan gelombang serangan bom bunuh diri di Israel beberapa tahun lalu, luput dari sejumlah upaya pembunuhan.

Menteri Dalam Negeri Israel Gideon Saar mengatakan kepada stasiun radio angkatan bersenjata bahwa Deif merupakan target yang sah dan jika ada kesempatan untuk melenyapkan dia, peluang itu harus diambil.

Roket

Pihak Israel berdalih hanya membalas serangan dari Gaza. Israel menuding 50 roket telah diluncurkan dari Gaza pada Selasa (19/8/2014) dan 20 lainnya pada Rabu (20/8/2014). Namun, roket-roket tersebut tidak melukai satu warga Israel pun.
roket

Adapun di pihak Palestina, serangan Israel ke jantung Gaza telah menewaskan delapan orang. Kedelapan individu diyakini merupakan kerabat dari keluarga yang sama. Secara keseluruhan, sekitar 100 orang mengalami cedera sejak gencatan senjata berakhir.

Pejabat dari kedua kubu mengatakan 2.028 warga Palestina dan 66 warga Israel tewas sejak Israel memulai serangan pada 8 Juli lalu.

Sayap militer faksi Hamas, Brigade Qassam, mengatakan Israel telah membuka gerbang neraka dan akan membayar harga yang mahal.

Perundingan gagal

Azzam al-Ahmad, kepala delegasi perundingan Palestina dan anggota senior faksi Fatah, menyalahkan Israel atas kegagalan kedua pihak dalam mencapai kesepakatan di Mesir.

“Israel sudah memutuskan untuk menggagalkan perundingan Kairo,” kata Al-Ahmad sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Di kubu seberang, juru bicara pemerintah Israel, Mark Regev, menyalahkan tembakan roket dari Gaza yang membuat kelanjutan perundingan mustahil sekaligus merusak iktikad perundingan. (BBC)