Priyo Siap Jadikan Partai Golkar Pemenang Pemilu 2014

Surabaya, Sayangi.com – Wakil Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso yang juga Ketua Umum Musyawarah Kekeluargaan dan Gotong Royong (MKGR) siap maju memimpin Partai Golkar untuk memenangkan partai itu pada Pemilu/Pilpres 2019.

“Jika saya diberi mandat (memimpin Partai Golkar), maka akan saya gunakan seluruh kemampuan, bakat, dan jaringan yang saya miliki untuk membangun Golkar menjadi partai pemenang Pemilu/Pilpres 2029,” katanya di Surabaya, Jatim, Minggu (14/3), seperti dikutip Antara.

Dalam deklarasi pencalonan dirinya untuk memimpin Partai Golkar di Surabaya yang dihadiri Ketua DPD Golkar Jatim Zainuddin Amali, Ketua DPC Golkar se-Jatim, dan pengurus Golkar dari Jateng, Yogyakarta, Aceh, Banten, Jabar, NTB , NTT, dan Sulawesi itu, ia tidak memberi janji muluk-muluk.

“Yang jelas, saya hanya ingin mewakafkan diri untuk Golkar. Sekarang, suara Golkar ada tren merosot, kalau saya dipercaya memimpin, maka tiada hari tanpa penggalangan, saya siap keliling kabupaten/kota se-Indonesia, saya tidak bilang blusukan atau safari, tapi saya siap melakukan konsolidasi,” ucapnya.

Di hadapan para pimpinan dan tokoh Golkar itu, salah satu Wakil Ketua DPR RI itu menawarkan tujuh gagasan untuk mewujudkan kemenangan Golkar pada Pemilu dan Pilpres serentak pada 2019 yang disebutnya dengan “sapta krida”.

Tujuh gagasan adalah ABG plus; citra partai merakyat (aspiratif); dukung figur populis; jalankan mesin partai dengan melibatkan tokoh masyarakat; utamakan arus bawah dengan kembangkan korda/korwil; kembalikan Golkar sebagai partai tengah, moderat, dan kekaryaan; dan kembangkan politik luhur.

“Jalur ABG memang harus tetap dipertahankan yakni ABRI (TNI/Polri), Birokrasi, dan Golkar (pengurus/kader), tapi kalau hanya itu, maka Golkar akan terjebak pada masa lalu atau menjadi partai Tjap Orang Tua, padahal pemilih pemula pada Pilpres 2014 mencapai 14 juta dan pada Pemilu/Pilpres 2019 akan mencapai 32 juta,” ujarnya.

Oleh karena itu, Golkar harus melakukan lompatan besar dengan membuka diri pada generasi pembaharu melalui “ABG Plus” yakni ABRI (TNI/Polri), Birokrasi, Golkar, dan plus Generasi Pembaharu yang berasal dari kalangan aktivis mahasiswa, aktivis LSM, pejuang desa, dan sebagainya.