Tumor Otak Picu Penyakit Paedofilia?

Foto: Ist

Virginia, Amerika Serikat, Sayangi.com – Sebuah kasus terbaru yang dialami pasangan suami istri di Virginia, Amerika Serikat membuat para dokter berkesimpulan bahwa tumor otak dapat memicu timbulnya Paedofilia dalam diri seseorang.

Dilansir dari Health Journal AP, Jumat (24/10/2014), dugaan dan kesimpulan ini bermula dari kehidupan sepasang suami istri, Barry (40) dan istrinya.

Belum lama ini, Barry menunjukkan perilaku janggal. Barry diam-diam memiliki kegemaran baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

Barry, yang berprofesi sebagai guru sekolah, terlihat sering berlama-lama di kantornya untuk sekadar browsing di internet. Apa yang dicarinya, ternyata bukan bahan-bahan pelajaran untuk muridnya. Melainkan situs-situs yang penuh gambar-gambar porno. Yang diburu Barry bukan situs porno yang berisi wanita-wanita. Secara khusus Barry memburu gambar porno anak-anak kecil.

Selain itu, seperti dituturkan istrinya, Barry jadi sering pulang larut malam. Tidak ada yang menduga, Barry yang selama ini dikenal sebagai pria baik-baik, selepas dari kantornya tidak langsung pulang ke rumah. Pria tambun ini secara rutin ”singgah” dulu di panti pijat, terutama yang memasang remaja-remaja tanggung sebagai pelayannya. Sang istri pun mulai curiga.

Istri Barry mulai mencari tahu apa gerangan yang dilakukan suaminya. Akhirnya, kegemaran baru si suami mulai terungkap. Tanpa ampun, ia diusir dari rumahnya. Sekaligus, pria beranak satu dari Virginia Amerika Serikat ini, diadukan ke pengadilan.

Vonis pengadilan menghadapkan dirinya pada dua pilihan : mengikuti program rehabilitasi ”kegilaan terhadap seks (sexaholic)” atau masuk hotel prodeo, alias penjara.

Barry lalu memilih opsi yang pertama. Namun, baru menjalani program ini, berita yang muncul ke pihak keluarganya adalah Barry diusir dari tempat rehabilitasi.

Pasalnya, pria ini terbukti nyaris memperkosa seorang wanita di di tempat rehabilitasi itu. Akhirnya Barry mesti berhadapan dengan penjara.
Sehari menjelang menempati ”rumahnya” yang baru, ia mengaku sakit kepala. Oleh keluarganya, Barry diantar ke sebuah rumah sakit terdekat. Kepada dokter yang memeriksanya, ia mengeluh hilang keseimbangan. Selain itu, ia mengungkapkan, dirinya takut gagal mengontrol dirinya untuk tidak memperkosa lagi. Di tempat itu pula ia menunjukkan gejala-gejala aneh. Contohnya, Barry tidak konsentrasi buat menulis atau menggambar.

Bahkan, ia tidak sadar ketika buang air kecil ke atas badannya sendiri. Akhirnya, dokter rumah sakit itu segera melakukan pemeriksaan. Lewat pemeriksaan tadi, kasus ini menemui titik terang.

Berdasarkan hasil MRI scan terungkap, ada tumor sebesar telur yang mendekam di otak Barry. Tumor ganas ini, sudah bersarang cukup lama. Keputusan para dokter, tumor ini harus segera diangkat. Jika tidak, perilaku Barry akan terus tidak karuan.

Kesimpulan sementara, tim dokter menduga tumor ini memicu perilaku seksual Barry yang menyimpang.

Berdasarkan keterangan dokter, tumor ini melekat di cuping kanan kortek orbifrontal pada otak.

”Belahan tersebut memegang fungsi penting dalam proses pengambilan keputusan, kontrol terhadap emosi atau perilaku kita dalam kehidupan sosial,” urai tim dokter.

Barry pun akhirnya dibedah. Selepas dioperasi dan lulus dari program rehabilitasi, Barry diizinkan pulang ke rumah. Pertengahan Oktober 2013, tujuh bulan setelah pembedahan, Barry kembali mengeluhkan sakit kepala. Lantas, diam-diam ia mulai melakukan kebiasaan lamanya: memburu dan mengkoleksi gambar-gambar porno anak kecil.

Ia pun diperiksakan kembali. Hasil MRI scan untuk kedua kalinya memperlihatkan tumor yang dulu tumbuh kembali di bagian otaknya. Maka kesimpulan tim dokter semakin bulat: tumor tadi benar-benar memicu Barry menjadi seorang paedofilia.

Menanggapi kasus langka tersebut, ahli syaraf dari Universitas Virginia, Russell Swerdlow dan Jeffrey Burns, menandaskan kasus ini terhitung unik dan baru.

“Kita tengah menghadapi sebuah kasus, ternyata moral seseorang sangat terkait dengan kondisi fisiknya,” ujar Swerdlow.

Seorang ahli syaraf lainnya, David Rosenfield, dari Baylor College of Medicine, Houston, menandaskan perlunya penelitian lebih lanjut untuk kasus ini. “Bahwa tumor di kepala bisa menyebabkan perubahan kepribadian, itu temuan menarik.” 

Analisisnya, gangguan lain di bagian orbifrontal corteks, bisa jadi turut memicu seserang mengalami paedofilia. Ini, katanya, penting untuk menguak lebih dalam sebab-sebab seseorang menjadi penggemar anak kecil. (SIS)