Kongres IPTI 2: Etnis Tionghoa Tak Terpisah dari Sejarah Bangsa

Foto: Eman MG

Jakarta, Sayangi.com – Sebagai bagian integral dalam sejarah kebangsaan, Etnis Tionghoa tak terpisah dalam sejarah berdirinya bangsa dan negara Indonesia. Kiprah dan peranan etnis Tionghoa sangat nyata dalam beberapa babakan penting sejarah berdirinya bangsa dan negara Indonesia. Sebut saja sumpah pemuda 1928 yang dilaksanakan di rumah salah seorang Tionghoa nasionalis bernama Sie Kong Liong.

Peristiwa sejarah demikian tidak boleh dilupakan sebab dengannya kita belajar untuk tahu bahwa orang Tionghoa di Indonesia itu tidak eksklusif tetapi bagian yang satu dan sama dari bangsa dan negara Indonesia yang bersama-sama golongan dan etnis lain membangun dan mendirikan bangsa ini.

Demikian dikatakan sekretaris Jenderal pengurus pusat Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Ardy Susanto yang ditemui disela-sela pembukaan kongres Nasional IPTI, Selasa (28/10) di Gedung Sumpah Pemuda Jakarta.

Diakuinya bahwa ada stigma eksklusif yang melekat dari pandangan masyarakat umumnya kepada warga negara Indonesia keturuan Tionghoa.

“Sebenarnya itu terjadi karena warisan kolonial zaman penjajahan Belanda yang diteruskan hingga ke masa pemerintahan 32 tahun presiden Soeharto. Ada sejarah yang membentuk persepsi demikian,” ujar Ardy.

Oleh karena itu, dirinya merasa terpanggil untuk bekerja membantu membongkar paradigma warisan sejarah ini agar nantinya secara perlahan sentimen eksklusif terhadap etnis Tionghoa perlahan bisa diperbaiki. Ardy optimis bahwa dengan aktif merespon persoalan sosial dalam masyarakat melalui berbagai bentuk kegiatan, akan membantu proses perbaikian stigma atau presepsi tersebut.

“Orang Tionghoa jangan hanya melihat bahwa yang dimaksud dengan kegiatan sosial itu adalah bagi-bagi sembako atau kegiatan bakti sosial lainnya tetapi harus lebih dari itu, orang Tionghoa harus mau melibatkan diri dalam berbagai problematika sosial, politik, hukum dan persoalan kebangsaan lainnya. Bila perlu keterlibatan secara langsung seperti menjadi PNS, anggota TNI/Polri, perawat medis, politisi dan
lain-lain,” sebutnya.

Ini merupakan Kongres IPTI ke 2 sejak organisasi itu didirikan tahun 2007 atas prakarsa Brigadir Jenderal TNI Purn. Tedy Jusuf, seorang Tokoh Tionghoa Nasional dan juga pendiri Paguyuban sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) pada tahun 1998. Kongres ini akan memilih ketua umum baru untuk masa jabatan 2014-2018. Dipilihya tanggal pelaksanaan kongres kali ini bertepatan dengan pelaksanaan Kongres Pemuda ke II 86 tahun silam yang kemudian melahirkan sumpah pemuda. Menurut Ardy saat ini adalah momentum terbaik untuk mengingatkan bahwa Pemuda Tionghoa dalam babakan sejarah penting bangsa dan negara ini jelas Nyata.

“Sumpah pemuda Indonesia untuk bersatu adalah juga sumpah kami pemuda Indonesia, sebab kami adalah bagian yang satu dan sama yang dahulu, kini dan nanti akan selalu menjadi Indonesia,” tutup Ardy.