Pembongkaran Lahan Karet Tengsin Berakhir Bentrok

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Bangunan  semi permanen milik warga Karet tengsin sempat dilakukan bongkar paksa oleh PT Jayaland, Rabu (29/10). Merasa tidak terima karena kompensasi penggusuran yang belum mencapai kata sepakat,  wargapun sempat melakukan protes dengan menutup akses jalan.

Usai melakukan  mediasi antara warga dan pihak kecamatan,  pihak Jayaland langsung melakukan penggusuran hingga berujung ricuh. Ricuh antara warga dengan petugas tak dapat dibendung, sehingga polisi sempat menembakkan gas air mata ke arah kerumunan warga. Beruntung, bentrokan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya saja, akibat bentrokan itu, warga merasa ketakutan.  Bahkan 3 anak-anak terluka di bagian mata akibat gas air mata.

Muri, seorang warga yang terkena pembongkaran ini mengatakan, warga sadar bahwa lahan yang ditempatinya bukan milik mereka.  Namun warga mengaku telah menempati lahan itu lebih dari 20 tahun. Mereka sudah merawat lahan itu dan meminta uang kerohiman yang layak. Warga juga meminta jangan ada lagi intimidasi yang dilakukan oleh pihak Jayaland.

“Warga semua mengakui kalau tanah di sini adalah milik PT Jayaland. Tidak ada warga yang mengklaim memiliki. Kalau sekedar pergi dari tanah ini kami siap, namun kami meminta uang kerohiman yang manusiawai untuk mencari tempat kemabali,” kata Muri.

Kata Muri, agar suasana kembali kondusif, PT Jaya Land harus menarik mundur jasa keamanan yang di sewanya dari lahan yang sudah dibongkar paksa, karena dianggap membuat warga tidak tenang.”Kami meminta agar PT Jaya Land agar meninggalkan tempat disekitar lahan yang sudah dibongkar, jika perusahaan itu tidak memberikan uang kerohiman yang pantas, maka kami diberikan kesempatan untuk tinggal empat bulan kedepan agar mendapatkan rumah tinggal yang baru dan adaptasi dilingkungan yang baru,” katanya mengharap.

Sementara itu, Camat Tanah Abang, Hidayatulloh sangat menyayangkan sikap yang dilakukan PT Jaya Land yang arogan dalam melakukan pembebasan itu. Menurutnya mediasi sudah dilakukannya antara warga dan perusahan tersebut, namun belum ditemukan titik temu yang pas.

“Kami akan terus melakukan upaya damai antara warga dan pemilik lahan, namun ini butuh proses,” kata Hidayatulloh.