Mengapa Perempuan Inggris Gunakan Nama Suami Setelah Nikah?

Foto: BBC

London, Sayangi.com – Mengapa perempuan Inggris menggunakan nama belakang suaminya setelah menikah. Pertanyaan itu dilontarkan oleh Dr Sophie Coulombeau.

Bagi saya, mengadopsi nama pasangan dan melepaskan nama saya sendiri akan memiliki dampak terhadap bagaimana saya memandang identitas diri saya.

Disatu sisi pergantian nama itu akan mengikat kita sebagai keluarga dan memudahkan untuk menulis akte kelahiran jika kita memilki anak. Tetapi disisi lain, itu akan membuat saya bertanya “Siapa saya?” ketika saya mengenalkan diri sebagai “Sophie Hardiman”.

Jika saya mengubah nama saya dengan nama belakang suami, saya tak akan sendirian. Sebuah survei yang dilakukan pada 1994 lalu, menunjukkan 94% perempuan di Inggris mengganti nama belakang mereka dengan nama suami setelah menikah.

Dalam sebuah penelitian yang lebih kecil, selama dua dekade terakhir, menunjukkan adanya penurunan jumlah perempuan yang menggunakan nama suami terutama bagi mereka yang berpendidikan tinggi.

Pada 2013, akademisi Dr Rachel Thwaites menemukan bahwa 75% responden menggunakan nama suami. Sementara Kelompok Peneliti Mengenai masalah pernikahan, bulan lalu mengeluarkan data yang menarik, hanya 54% perempuan yang menjadi responden mengganti nama mereka.

Di Inggris, secara hukum Anda dapat menyebut diri sesuai dengan yang Anda suka (asalkan Anda tidak melakukan penipuan). Tetapi meski demikian, dua pertiga sampai tiga perempat perempuan Inggris yang menikah masih menandatangani dokumen yang menggunakan nama suami mereka atau memperkenalkan diri dengan nama belakang suami, bahkan memakai nama tersebut untuk membuat paspor dan kartu kredit atau media sosial.

Kritik terhadap penggantian nama ini muncul setelah Amal Amaluddin, pengacara HAM yang menikah dengan aktor George Clooney, memutuskan untuk mengganti nama.

Sejumlah feminis menyebutkan perempuan mengalami kerugian serius dengan karir mereka jika mengganti nama, itu merupakan sinyal mereka tenggelam dalam bayang-bayang suami mereka dan memperkuat ide terhadap anak-anak mereka bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Mereka yang berpikir bahwa perempuan harus mengganti nama mereka, seringkali menyatakan bahwa itu tidaklah penting, tetapi merupakan pilihan, dan mereka memilih untuk meneruskan “tradisi”.

Masalah penggantian nama yang disebut sebagai ‘tradisi’ ini faktanya telah menimbulkan kontroversi sejak dulu, terutama di kalangan masyarakat Inggris.

Selama 1.000 tahun, telah mengadopsi penggunaan nama belakang dari Prancis pada masa Norman Conquest, yang membangun masyarakat Inggris pada abad 14. Perempuan yang menikah, sebelumnya tak perlu menggunakan nama belakang.

Sebuah pengadilan pada 1340 menyebutkan, “Ketika seorang perempuan memiliki suami, dia kehilangan nama belakangnya sama sekali, dan disebut istri dari…”

Tetapi, pada abad ke 15, ketika doktrin Prancis masuk ke Inggris, penggunaan nama belakang suami pun mulai dilakukan. Meski demikian, perempuan menikah masih tidak dapat memiki properti, hak suara ataupun hak hukum.

Pada abad ke 17, William Camden menulis: “Perempuan bersama kita, ketika mereka menikah gantilah nama mereka, dan menjadi nama suami. Untuk itu mereka menjadi satu.”

Pada pertengahan abad ke 18, sebuah literatur tertulis menunjukkan adanya pertentangan penggunaan nama suami tersebut, salah satunya penulis feminis Mary Wollstonecraft yang menikah dengan filsuf William Godwin pada 1797. Setelah menikah dia tetap menggunakan namanya “MARY WOLLSTONECRAFT istri dari Godwin” – kemungkinan untuk menghindari dampak hukum dari penikahannya. (BBC)