APKLI Perintahkan PKL Siaga I Hadapi Anjloknya Nilai Tukar Rupiah

Foto: Istimewa

Jakarta, Sayangi.com – Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima (APKLI) Ali Mahsun memerintahkan jajarannya di seluruh Indonesia untuk mewaspadai ekses dari anjloknya nilai tukar rupiah. Pernyataan APKLI tersebut disampaikan menanggapi terpuruknya nilai rupiah hari ini yang menembus angka Rp 12.700 dan merupakan yang terendah sejak 2008.

“Nilai tukar rupiah hari ini adalah yang terburuk sejak tahun 2008. Kenyataan ini jauh dari harapan dan proyeksi pasar di seputaran Pilpres 2014 jika Joko Widodo terpilih jadi Presiden RI. Saat itu, para ekonom dan pelaku pasar memprediksi nilai tukar rupiah dapat menguat hingga dibawah Rp. 10.000 per USD jika Jokow Widodo terpilih jadi Presiden RI. Lantas kenapa saat ini tembus Rp. 12.700 per USD bahkan BI prediksi bisa tembus Rp. 16.000 per USD?, tegas Ketua Umum DPP APKLI dr. Ali Mahsun, M. Biomed dalam pernyataan kepada Sayangi.com, di Jakarta Senin (15/12/2014).

Menurut Ali, banyak pendapat terkait penyebab anjloknya nilai tukar rupiah terhadap USD. Diantaranya, adanya banyak kebutuhan USD untuk membayar hutang yang jatuh tempo, baik hutang pemerintah maupun hutang swasta. Selain itu, ada juga yang berpandangan akibat pasar tidak percaya dan kecewa atas kinerja kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang dianggap tidak mampu menciptakan situasi dan kondisi politik nasional Indonesia yang stabil, bahkan makin karut marut akhir-akhir ini.  

“Dunia pasar tidak nyaman bahkan tidak percaya pada Indonesia sehingga memicu anjloknya nilai tukar rupiah terhadap USD,” ujar Ali yang juga Ketua Umum Pergerakan Merah Putih – PMP Indonesia.

Ali memprediksi Jika anjloknya nilai tukar rupiah terhadap USD tak segera dapat dikendalikan maka Indonesia saat ini beresiko tinggi mengalami krisis ekonomi kembali seperti 1997/1998.

“Tentunya semua pihak tak mengharapkan dan terus berupaya agar hal tersebut tidak terjadi,” tambah Wakil Ketua Umum Politik DPP Barindo 2007-2012 ini.

Menurut Ali, walaupun para PKL sudah kenyang makan garam bahkan menjadi bantalan dan pahlawan ekonomi nasional tatkala krisis ekonomi 1997/1998, APKLI tetap perintahkan kepada PKL diseluruh Indonesia untuk lebih waspada dan Siaga I menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terulangnya krisis ekonomi di Indonesia.

“PKL tak perlu galau, harus tetap berjualan dan turut aktif menjaga perputaran roda ekonomi nasional. Bahkan wajib dan tetap berada di garda depan jika benar-benar terjadi krisis ekonomi,” pungkas Ali yang pernah menjabat Ketua Umum Bakornas LKMI PBHMI Periode 1995-1998.