Komite Reformasi Migas Rekomendasikan Penghentian Impor Premium

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com –  Komite Reformasi Tata Kelola Migas merekomendasikan penghentian impor RON88 (bahan bakar jenis premium) dan secara berkala menggantinya dengan impor RON92 (pertamax).

“Kami merekomendasikan agar pemerintah menghentikan impor RON88 dan menggantikannya dengan impor RON92,” kata Kepala Komite Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu.

Dalam konferensi Pers di Kantor Kementerian ESDM itu hadir juga anggota tim reformasi migas lainnya seperti Darmawan Prasodjo, Naryanto Wagimin, Chandra Hamzah dan Djoko Siswanto.

Faisal mengatakan penghentian impor juga berlaku untuk jenis “gasoil” 0,35 persen sulfur dan menggantikannya dengan impor “gasoil” 0,25 persen sulfur.

Komite juga merekomendasikan agar mengalihkan produksi kilang domestik dari bensin RON88 menjadi RON92. Dengan demikian, formula perhitungan harga patokan menjadi lebih sederhana dan sesuai dinamika pasar.

Penyederhanaan perhitungan harga patokan selama ini dinilai tidak berdasarkan pembentukan harga pasar, melainkan asumsi yang bias dan kadaluarsa.

“Dengan begitu, perhitungan harga patokan lebih mencerminkan harga lewat mekanisme pasar yang betul-betul terjadi, transparan dan akuntabel serta dapat mengurangi peluang manipulasi,” katanya.

Komite juga merekomendasikan besaran subsidi tetap untuk bensin jenis RON92 per liter, yang tentunya ditentukan atas pertimbangan pemerintah dan DPR RI.

Selain itu, komite merekomendasikan pola penetapan harga khusus untuk transportasi publik dan angkutan barang kepentingan umum sehingga kebijakan tersebut tetap bersifat adil.

Faisal juga menyampaikan beberapa pilihan kebijakan terkait pengalihan produksi kilang domestik agar bisa seluruhnya memproduksi RON92. Pertama, melalui pembaruan kilang domestik sehingga produksi bensin RON88 bisa digantikan dengan bensin RON92 dengan masa transisi tertentu.

Kedua, pengelolaan fasilitas kilang TPPI akan diserahkan sepenuhnya kepada Pertamina agar memungkinkan peningkatan yang maksimal.

Ketiga, selama masa transisi, produk RON88 yang diproduksi akan dipasarkan di wilayah sekitar kilang atau diserahkan kepada kebijakan Pertamina.

Keempat, besaran subsidi per liter untuk RON88 lebih kecil dari subsidi untuk Mogas92. Kelima, fasilitas pemerintah untuk mempercepat pembaruan dan perluasan fasilitas kilang.

Kelima, harga patokan bensin RON88 yang digunakan menggunakan harga indeks pasar dengan formula perhitungan yang berlaku saat ini.

Faisal Basri menambahkan, impor bahan bakar minyak “RON88” (bensin Premium) yang dilakukan Indonesia bisa membuka peluang kartel, karena negara ini adalah satu-satunya pembeli BBM jenis tersebut di dunia.

“Ini membuka peluang terjadi kartel penjual, karena mereka punya kepentingan menghasilkan RON88 hanya untuk Indonesia,” katanya.

Menurut dia, Indonesia adalah satu-satunya pembeli terbesar RON88 di dunia namun tidak punya kuasa apa pun atas penetapan harga transaksi minyak bursa Singapura (MOPS) untuk “Mogas92”, acuan harga bensin RON88.

“Petral, yang memasok bensin RON88 ke Indonesia hanya jadi price taker dalam impor bensin RON88, sehingga memungkinkan terjadinya kartel,” ujarnya.

Faisal menuturkan, dengan rekomendasi pihaknya untuk menghentikan impor RON88 dan secara berkala menggantinya dengan RON92 (Pertamax), akan tercipta sistem patokan harga yang transparan, sesuai mekanisme pasar dan akuntabel.

Dia mengatakan, BBM RON92 akan lebih murah didapatkan di pasaran dunia, yang tidak lagi menjual RON88, sehingga Indonesia bisa memilih harga yang lebih kompetitif dalam impor minyak bumi.

“Di dunia, bahkan di Asia Tenggara saja, hanya Indonesia yang masih pakai RON88. Meski yang kita impor sekarang adalah RON88, tidak menutup kemungkinan yang dikirim adalah RON92 yang harganya lebih murah. Tapi dijual ke kita lebih mahal,” paparnya.