Sofyan Basir Diangkat Jadi Dirut PLN, Bursah: Bangsa Ini Sudah Sakit

Jakarta, Sayangi.com – Pemerintah menetapkan Sofyan Basir menjadi Dirut PT PLN (Persero) untuk masa jabatan periode 2014-2019. Pengangkatan Sofyan Basir yang saat ini menjabat Dirut Bank BRI tersebut dilakukan langsung Menteri BUMN Rini M Soemarno dan disaksikan Menteri ESDM Sudirman Said, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/12).

Pengangkatan Sofyan Basir tersebut menuai kecaman keras dari Ketua Umum Perhimpunan Gerakan Keadilan (PGK) Bursah Zarnubi yang menilai figur Sofyan memiliki track record yang kurang baik. Bursah bahkan mengingatkan pemerintah untuk menuntaskan terlebih dahulu kasus korupsi dryng center yang diduga melibatkan Sofyan Basir yang saat itu menjabat sebagai Dirut Bank Bukopin.

“Penunjukan Sofyan Basir ini mencederai keadilan dan akal sehat. Seharusnya pemerintah melalui Kejaksaan Agung menuntaskan dulu kasus drying center, tangkap semua yang terlibat. Yang saya dengar kasus ini justru sudah di-SP3 secara diam-diam. Sekarang dia (Sofyan Basir) malah jadi dirut PLN, bangsa ini sudah sakit ,” tegas Bursah, Selasa (23/12) malam.

Menurut Bursah, keputusan pemerintah menyerahkan perusahaan negara strategis seperti PLN untuk dipimpin figur bermasalah seperti Sofyan Basir sangat tidak tepat. Bursah juga mengingatkan Rini Soemarno agar jangan seenaknya menempatkan orang yang tidak kredibel menjadi Dirut BUMN.

Kasus drying center berawal pada tahun 2004 saat Direksi Bukopin dibawah kepemimpinan Sofyan Basir memberikan kredit kepada PT Agung Pratama Lesatri (APL) sebesar Rp 69,8 milyar untuk membiayai pembangunan alat pengering gabah (drying center) pada Divisi Regional Bulog Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, dan Sulawesi Selatan sebanyak 45 unit.

Namun, pada prakteknya kredit itu diduga telah disalahgunakan, seperti mesin yang harus dibeli beremerek Sincui, tapi dibelikan mesin beremerek Global Sea. Hanya saja pada mesin Global ditempeli merek Sincui. Kredit dari Bukopin pun macet dan membengkak hingga Rp 76,3 milyar.

Atas dasar itu, penyidik Kejaksaan Agung menetapkan 11 tersangka pada Agustus 2008 namun belum ada kelanjutannya hingga saat ini. Sofyan Basir pun sempat dua kali dipanggil penyidik kejaksaan namun pada panggilan kedua ia mangkir.

Pada September 2012 Direktur Penyidik pada Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) saat itu, Arnold Angkouw menjelaskan, pemeriksaan terhadap Sofyan Basir sangat diperlukan karena tidak hanya terkait kasus di Bank Bukopin, melainkan juga sebagai saksi kasus dugaan korupsi pemberian dan penggunaan kredit investasi oleh BRI kepada PT. First Internasional Gloves, untuk pembangunan pabrik sarung tangan karet di Pelaihari, Kalsel sebesar US$ 18 juta.