Mensos: Perempuan Cerdas Mampu Bangun Peradaban

Foto: Sayangi.com/Emil

Malang, Sayangi.com – Pemaknaan tradisional menjadikan ada perlakukan salah terhadap perempuan di Indonesia. Dimana, perempuan masih diposisikan di wilayah domestik saja.

“Perempuan masih diposisikan di wilayah domestik yang mengurus rumah tangga. Tidak menjadi penopang utama keluarga, ” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat acara talk show “Peran Ibu (muslimah) dalam membangun peradaban” dengan sub tema ” Cerdas, Sholehah Mendidik Pemimpin Peradaban” di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Selasa (23/12).

Saat ini, perempuan harusnya bisa cerdas, berpengetahuan dan bisa menentukan dalam proses internalisasi, enkulturasi dan akulturasi pada keluarga dan lingkungan sekitar.

“Seiring perubahan yang terjadi, perempuan dituntut untuk merevitalisasi pola pengasuhan dan proses pendidikan anak-anak di dalam keluarga, ” katanya.

Ke depan, perempuan Indonesia harus menjadi pilar untuk membentengi anak-anak agar tidak terjerumus pada tindakan a-sosial, sekaligus menjaga ketahanan sosial dan kesejahteraan keluarga.

Hal tersebut, berlaku bagi para mahasiswi agar ilmu yang dipelajarinya bisa menjadi jembatan untuk berkiprah dalam menjalani peradaban dan bekal memimpin kemajuan bangsa dan negara.

Ilmu dan Pengetahuan akan menjadikan kekuatan bukan hanya sekedar harkat, tetapi juga martabat untuk setara berkiprah dalam setiap sisi pembangunan bangsa.

“Sebuah keniscayaan perempuan maju, cerdas, berharkat dan bermartabat di tengah gerusan ilmu dan teknologi. Sebab, sukses sebuah keluarga dan seorang anak, karena ada sosok perempuan hebat dan berwibawa di belakangnya, ” tandasnya.

Sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kementerian Sosial (Kemensos) menangani perempuan yang mengalami berbagai tindak kekerasan dengan beragam tingkatan usia.

Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) Tahun 2014, merilis bahwa klien perempuan yang ditangani berdasarkan jenis tindak kekerasan, yaitu : KDRT 11 kasus, korban perkosaan 3 kasus, terlantar 11 kasus, traficking 599. Jadi total 627 kasus.

“Untuk jumlah klien perempuan Pekerja Migran (PM) bermasalah yang ditangani RPTC tahun 2014 berjumlah 196 orang,” tandasnya.