Jerman Diguncang Unjuk Rasa Anti dan Pro Islamisasi

Foto: Getty Images

Berlin, Sayangi.Com– Sejak Oktober tahun lalu, beberapa kota di Jerman marak dengan unjuk rasa menentang tingginya jumlah imigran dan apa yang mereka sebut sebagai meningkatnya pengaruh Islam atau Islamisasi.

Aksi mereka mengabaikan seruan Kanselir Angela Merkel yang menyatakan unjuk rasa seperti itu sebagai rasis.

Pada aksi di Kota Dresden, Senin 5 (5/1) kemarin, tercatat 18.000 orang menghadiri aksi yang digerakkan kelompok yang menamakan diri Patriotik Eropa untuk Menentang Islamisasi Barat atau”Pegida”.

Seperti dilaporkan kantor berita DPS, para demonstran Pegida melambai-lambaikan bendera nasional Jerman berwarna hitam, merah dan emas, serta membentangkan slogan-slogan yang antara lain berbunyi “Melawan fanatisme agama dan setiap bentuk radikalisme”.

Sedangkan di Cologne, demonstran Pegida membentangkan poster bertuliskan “pilih kentang dari pada kebab”, merujuk etnis Turki yang berjumlah tiga juta orang dan menjadi komunitas imigran terbesar di Jerman.

Jumlah pencari suaka yang tiba di Jerman, yang kebanyakan berasal dari Timur Tengah, meningkat tajam menjadi 200.000 pada tahun lalu, empat kali lebih banyak dibandingkan dengan 2012.

Unjuk rasa kelompok Pegida dikecam oleh Kanselir Jerman Angela Merkel dan banyak politisi senior. Pekan lalu, pada pesan Tahun Baru, Merkel meminta warga Jerman untuk menjauhi demonstran anti-muslim dengan menyebut hati mereka dipenuhi kebencian.

“Kita mesti berkata bahwa ekstremisme sayap kanan, permusuhan kepada orang asing dan anti-semitisme tidak bisa dibiarkan hidup dalam masyarakat kita,” kata Merkel.

Sikap Merkel didukung oleh banyak warga Jerman. Di sejumlah kota, kini juga bermunculan unjuk rasa menentang kampanye yang dilakukan Pegida.

Di Cologne, yang memiliki penduduk muslim besar, terjadi unjuk rasa tandingan yang berkekuatan 10 kali lebih besar dibandingkan demonstran Pegida. Hanya 250 pendukung Pegida yang melakukan unjuk rasa di kota itu.

Katedral Cologne, yang menjadi salah satu landmark paling terkenal di Jerman, mematikan lampu sebagai tanda protes terhadap kampanye sikap anti-muslim.

“Kami ingin membuat umat Kristen yang konservatif (yang mendukung Pegida) berpikir ulang atas apa yang mereka lakukan,” kata pemimpin katedral Cologne, Norbert Feldhoff, kepada BBC.

Di Berlin, ibukota Jerman yang multietnis, sekitar 5.000 pengunjuk rasa menghadang ratusan pendukung Pegida yang akan melakukan pawai di trayek yang sudah mereka rencanakan.

Sedangkan di Stuttgart, Muenster, dan Hamburg, sekitar total 22.000 orang yang anti-Pegida juga menggelar unjuk rasa, demikian dilaporkan BBC.