Deadlock, BPC Sebut Hipmi Sudah Terjebak dalam Pragmatisme Politik

Bandung, Sayangi.com – Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) ke-XV berakhir deadlock. Perbedaan interupsi dalam sidang yang diikuti ribuan pengusaha muda tersebut berakhir tanpa keputusan.

Hal ini terjadi setelah pimpinan sidang men-skors sidang tanpa batas waktu. Padahal sejatinya, sesuai agenda yang ditetapkan, Munas Hipmi kali ini hanya digelar selama tiga hari, yakni dari 11-13 Januari 2015.

Kondisi tersebut, membuat banyak kalangan kecewa. Tak terkecuali dari internal Hipmi sendiri, yang salah satunya adalah Ketua Umum BPC Hipmi Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Heriyanto.

Ia menyesalkan praktik yang ditampilkan Munas Hipmi kali ini yang dinilainya sudah terjebak dalam pragmatisme politik. Ia menilai bahwa Hipmi sudah mengalami degradasi.

“Sangat disayangkan. Munas kali ini menunjukkan bahwa Hipmi sudah terjebak dalam pragmatisme politik,” kata Heriyanto, dalam keterangannya, Kamis (15/1/2015).

Mestinya kata dia, pengusaha menghindari praktik politik praktis. Karena dunia usaha itu adalah dunia profesional yang tidak boleh bersentuhan dengan dunia politik.

Terkait soal ketua umum mendatang, ia hanya berharap agar yang terpilih nantinya mau turun ke BPC-BPC di seluruh Tanah Air.

“Ketum yg dulu-dulu selalu mengontrol daerah (BPC) lewat BPD, sehingga enggak pernah tahu masalah yang sebenarnya di daerah,” jelasnya.

“Padahal ketua umum pusat juga perlu mendorong potensi pengusaha-pengusaha daerah, dan memberikan stimulus, sehingga Hipmi tidak lagi sentralistik, dan Ketua Umum BPP tidak hanya mengontrol dari balik meja.”