Anies Baswedan: Film Membentuk Imajinasi Kolektif Bangsa

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Menteri Pendidikan Dasar Menengah dan Kebudayaan, Anies Baswedan menilai, film memiliki peran besar dalam membentuk memori kolektif sebuah bangsa. Bukan hanya sebagai hiburan, film juga bisa menjadi media untuk mempelajari sejarah. Menurut Anies, film bisa menjadi kekuatan tersendiri untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

“Bangsa Indonesia dibangun dengan imajinasi. Karena itu, bangsa ini harus mempertahankan imajinasi itu dengan narasi-narasi baru tentang Indonesia, keindonesiaan dan tentang masa depan,” kata Anies dalam Seminar Sehari “Bedah Sejarah VOC 1602 di Batavia” di Kementerian Pendidikan, Jakarta, Rabu (11/2).

Dikatakan Anies, tidak banyak negeri yang dibangun dengan imajinasi. Karenanya, ada keinginan membagun imajinasi dengan membuat film. Dia mencontohkan, film Batavia 1629 yang akan diproduksi oleh Purwaka Film tidak sekadar menunjukkan Batavia dan dinamikanya, tetapi juga mengenai perjuangan dan ketangguhan.

“Bangsa ini terbentuk bukan dari suku-suku, tapi karena ada sebuah imajinasi besar akan sebuah bangsa yaitu Indonesia,” ungkapnya.

Dia berharap, nantinya film Indonesia tidak hanya berpacu pada kepentingan usaha. Namun juga dapat sejalan dengan kepentingan nasional untuk mencerdaskan bangsa. Seperti menuangkan narasi-narasi sejarah bangsa kedalam sebuah film yang menarik.

Anies berharap para sineas bisa memproduksi film-film yang bagus. Tidak hanya untuk kepentingan usaha, namun juga kepentingan bangsa.

“Pada akhirnya mengelola institusi bisnis itu punya semangat untuk memajukan bangsa. Saya kira kepentingan usaha bisa sejalan dengan kepentingan nasional,” pungkas Anies.

Sementara  itu, pimpinan Purwaka Film Andi Sinulingga, mengatakan, banyak orang belajar sejarah, namun tidak banyak orang belajar dari sejarah. Ia merasa prihatin dengan banyaknya anak muda yang buta akan sejarah bangsanya. Karenanya ia memandang perlu membuat film yang berlatarbelakang kehidupan Vereningde Oostindische Compagnie (VOC) di Batavia.

“Sejarah bangsa kita sudah banyak yang tertulis. Tapi masih sedikit yang divisualisasi di layar kaca. Kita berharap ada film yang bermanfaat. Bukan saja baik menjadi tuntunan, tapi enak jadi tontonan,” kata Andi dalam sambutannya.

Dijelaskan Andi, ia sengaja mengambil tema VOC dalam film yang rencananya akan diluncurkan tahun 2016 itu, karena memang pehamanan anak muda soal monopoli perdagangan yang pernah terjadi di Indonesia oleh VOC belum sempurna.

“Eksistensi VOC yang melakukan monopoli perdagangan penting untuk diangkat menjadi film. Monopolisitik itu memiskinkan, itu yang terjadi saat ini di Indonesia yang dilakukan oleh multi-national corporation (MNC)” ungkap Andi.

Andi mengungkapkan, karena tidak belajar dari sejarah, saat ini Indonesia juga sedang mengalami problem yang pernah terjadi di zaman VOC dahulu. Kesenjangan sosial, disparitas ekonomi, konglomerasi perusahaan besar, ekpolitasi manusia ke manusia dan perilaku korupsi sedang terjadi saat ini.

“Karena monopolisitik yang menyebabakan kemiskinan serta diskriminasi ekonomi dan sosial itu akhirnya mereka bangkrut. Habis bangkrut mereka di bailout oleh Belanda,” pungkas Andi.