Penuhi Permintaan Australia, Kejagung Tunda Eksekusi Mati Tahap II

Foto: Antara

Jakarta,Sayangi.Com– Kejaksaan Agung (Kejagung) menunda pelaksanaan eksekusi mati tahap II antara lain karena memenuhi permintaan Pemerintah Australia dan dua keluarga terpidana mati kasus narkoba asal negara tersebut, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

“Penundaan ini merupakan respons terhadap permintaan Australia dan keluarganya yang meminta waktu lebih panjang untuk bertemu (dua terpidana mati),” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Tony Tribagus Spontana, di Jakarta, Selasa (17/2).

Semula Kejagung akan mengeksekusi 11 terpidana mati yang sudah ditolak permohonan grasinya pada pekan ini. Sebelas terpidana mati itu adalah:

1. Syofial alias Iyen bin Azwar (WNI) kasus pembunuhan berencana
2. Mary Jane Fiesta Veloso (WN Filipina) kasus narkotika
3. Myuran Sukumaran alias Mark (WN Australia) kasus narkotika,
4. Harun bin Ajis (WNI) kasus pembunuhan berencana
5. Sargawi alias Ali bin Sanusi (WNI) kasus pembunuhan berencana
6. Serge Areski Atlaoui (WN Prancis) kasus narkotika
7. Martin Anderson alias Belo (WN Ghana) kasus narkotika
8. Zainal Abidin (WNI) kasus narkotika
9. Raheem Agbaje Salami (WN Cordova) kasus narkotika
10. Rodrigo Gularte (WN Brazil) kasus narkotika
11. Andrew Chan (WN Australia) kasus narkotika.

Kapuspenkum juga menyatakan rencana pemindahan narapidana dari lima lembaga pemasyarakatan (LP) di Tanah Air ke Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, pada pekan ini juga ditunda.

Kelima lokasi itu adalah LP Kerobokan (Bali), Madiun (Jawa Timur), Yogyakarta, Tangerang (Banten), dan Palembang.

Selain itu, menurut Tony Spontana, ada permintaan dari Divisi Pemasyarakatan Kanwil Hukum dan HAM Jateng, agar pemindahan narapidana dilakukan tiga hari sebelum pelaksanaan eksekusi. Juga ada terpidana mati asal Brazil yang perlu untuk diperiksa dengan alasan mengalami gangguan jiwa.

“Tim eksekutor sudah meninjau Nusa Kambangan, ternyata ada kendala teknis didapati bahwa lokasi agak sulit untuk dilakukan eksekusi lebih dari lima terpidana mati secara bersamaan,” katanya.

Karena itu, menurutnya, pemindahan terpidana mati akan dilakukan setelah ruang isolasi dan lokasi eksekusi siap digunakan.

Tony membantah jika eksekusi itu akan dibatalkan. “Mencari hari yang tepat, eksekusi akan dilakukan serentak,” katanya.