Jagal ISIS Terungkap, Ternyata Sarjana Komputer Warga Inggris

London,Sayangi.Com- Laki-laki dengan aksen kental Inggris yang tampil dalam empat video pemenggalan ISIS telah diidentifikasi sebagai Muhammad Emwazi, warga negara Inggris kelahiran Kuwait dari keluarga kelas menengah yang tinggal di London Barat, dan lulusan program komputer dari Universitas Westminster.

Informasi tentang identitas algojo atau jagal ISIS, yang selama ini dijuluki sebagai Jihadi John itu, dikonfirmasi kepada Washington Post dan Reuter, Kamis (26/2) melalui telepon seorang teman dekatnya.

Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi pada London’s King’s College, yang selama ini menjadi sumber utama dalam meneliti para aktivis jihad asing, juga meyakini bahwa identitas ini “akurat dan benar”.

Cage, kelompok pembela HAM yang pernah menjalin kontak dengan Emwazi selama dua tahun atas sangkaan kekerasan oleh petugas keamanan Inggris, mengatakan pria itu mirip sekali dengan militan bertudung itu.

Direktur riset Cage Asim Qureshi berkata kepada seorang wartawan Washington Post bahwa karena ada tudung itu maka belum 100 persen yakin orang itu adalah Emwazi.

New York Times mengutip seorang pejabat senior Inggris melaporkan bahwa Emwazi sebenarnya sudah diidentifikasi beberapa tahun lalu namun namanya dirahasiakan untuk alasan operasional.

Akan tetapi, Kepolisian Metropolitan London menolak mengonfirmasi bahwa laki-laki itu adalah Emwazi sebagaimana dilaporkan Reuters dan Washington Post.

“Kami sebelumnya meminta media massa jangan berspekulasi tentang rincian investigasi kami karena ada manusia lain yang hidupnya tengah menghadapi resiko besar,” kata Komandan Komando Kontra Terorisme Kepolisian Metropolitan London, Richard Walton, seperti dikutip cnn.com.

Jihadi John diketahui telah muncul sebagai laki-laki yang mengenakan pakaian hitam-hitam dengan gantungan pistol kulit di bahu serta penutup muka dan kepala yang juga berwarna hitam. Sudah enam warga negara-negara Barat yang telah dieksekusi olehnya dengan memakai belati.

Korban Jihadi John yang dipublikasikan adalah Abdul-Rahman Kassig (Amerika Serikat), John Foley (Amerika Serikat), David Haines (Inggris), dan Alan Henning (Inggris).

Daftar itu masih ditambah warga negara Jepang, Kenji Goto dan seorang rekannya. Dialah yang berkata-kata dalam video korban dari Jepang itu tentang tebusan 200 juta dolar Amerika Serikat untuk menyelamatkan keduanya. Semua korban ISIS itu memakai baju yang sama, baju coverall berwarna oranye.

Seorang petinggi Yayasan Asia Pasifik, Sajjan Gohel, menyatakan, sudah menjadi rahasia terbuka bahwa intelijen Amerika Serikat dan Inggris sudah paham bahwa Jihadi John adalah Mohammed Emwazi, yang memiliki bentuk mata sayu dengan bulu mata lebat.

Emwazi, yang diyakini masih berusia 20-an, juga digambarkan sebagai seorang pendiam, sopan, dan memiliki cita rasa berbusana tinggi.

Ideologi, bukan kemiskinan

Nama Jihadi John konon diambil dari nama anggota The Beatle –John Lennon– karena aksen Inggrisnya.

Dia rupanya teradikalisasi setelah ditahan oleh pihak berwenang menyusul sebuah penerbangan ke Tanzania dan dituduh oleh para pejabat intelijen Inggris sedang mencoba pergi ke Somalia di mana dia diyakini punya kaitan dengan seseorang yang punya koneksi ke kelompok ekstremis militan al-Shabab.

Menurut salah satu email yang dikirimkan kepada Cage, dia juga marah akibat dilarang terbang dari London ke Kuwait pada 2010.

“Saya punya pekerjaan yang sudah menanti saya dan pernikahan yang sudah siap sedia,” tulis dia dalam email yang disiarkan Cage.  “Tapi kini saya merasa seperti tahanan, hanya saja tidak di dalam kurungan, melainkan di London.”

“Fakta bahwa ‘Jihadi John’ tersingkap menunjukkan bahwa apa pun cara yang ditempuh, kemampuan seseorang untuk menutupi identitasnya adalah terbatas bahkan mustahil, dan identitas asli mereka akhirnya terungkap,” demikian analisis Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi pada London’s King’s College.

Merujuk dari asal kelas menengahnya, Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi pada London’s King’s College mengatakan bahwa itu menunjukkan radikalisasi tidak didorong oleh kemiskinan atau pemasungan sosial.

Para pejabat intelijen Inggris menaksir bahwa ada sekitar 700 militan di dalam negeri yang bertempur demi ISIS di Suriah dan Irak.

Sumber: AFP