Hasto, Tjahjo dan Megawati Bisa Jadi Tersangka dalam Kasus Baru Samad

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, sayangi.com – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Abraham Samad, kembali ditetapkan sebagai tersangka pidana oleh penyidik Bareskrim Polri. Samad menjadi tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan wewenang saat menjadi pimpinan KPK.

Direktur Eksekutif KPK Watch, Muhammad Yusuf Sahide, pada akhir Januari lalu melaporkan kasus ini terkait pertemuan Abraham dengan politisi DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menjelang Pemilu Presiden 2014 lalu. Menurut dia, pertemuan keduanya membahas kesepakatan proses hukum yang menjerat politisi PDIP Emir Moeis.

Samad diduga melanggar Pasal 36 ayat (1) UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Dalam pasal itu disebutkan, “Pimpinan KPK dilarang, mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan tersangka atau pihak lain yang ada hubungan dengan perkara tindak pidana korupsi yang ditangani KPK dengan alasan apa pun”.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus, menilai hal tersebut sebagai kriminalisasi terhadap pimpinan KPK. Menurutnya, penggunaan pasal tersebut sangat dipaksakan jika dikaitkan dengan pertemuan Samad dengan politisi PDI Perjuangan.

Dugaan kriminalisasi itu karena Hasto Kristiyanto tidak punya hubungan langsung atau tidak langsung dengan tindak pidana korupsi yang dipersangkakan KPK kepada Emir Moeis. Hubungan antara Emir Moeis dan Hasto Kristiyanto adalah sesama kader dan pengurus DPP PDIP.

“Jika saja Bareskrim Mabes Polri tetap memaksakan status tersangka kepada Abraham Samad terkait pertemuannya dengan Hasto Kristiyanto tersebut, maka Hasto pun harus dijadikan tersangka karena pertemuan itu dilarang oleh undang-undang,” kata Petrus di Jakarta, Sabtu (28/2).

Akan lebih melebar lagi kalau pertemuan itu dilakukan atas perintah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Jika skenarionya seperti itu, maka Megawati pun harus dijadikan tersangka oleh Bareskrim Mabes Polri karena diduga turut berperan membantu terjadinya pertemuan yang haram dengan Abraham Samad.

Pada tahap ini, penyidik Bareskrim Mabes Polri harus bersikap fair, objektif karena substansi pertemuan antara Abraham Samad adalah terkait dengan hak masing-masing pihak. PDIP sebagai partai politik sedang membutuhkan figur untuk jadi Cawapres,  sementara Abraham Samad sebagai warga negara yang juga punya hak untuk dipilih.

“Seandainya pembicaraan tentang Emir Moeis ini benar, maka Abraham Samad tidak dapat dikenakan pelanggaran hukum berdasarkan pasal 36 ayat 1 di atas, mengingat antara Hasto Kristiyanto dan Emir Moeis tidak berada dalam hubungan yang terkait dengan tindak pidana yang dipersangkakan. Misalnya saja Hasto Kristiyanto dalam kasus Emir Moeis tersangkut sebagai pihak korban atau sebagai Saksi dalam perkara Emir Moeis,” jelasnya.

Ia menegaskan, pengenaan pasal 36 ayat (1) jelas di luar konteks dan kalau dipaksakan maka akan menyeret Hasto Kristiyanto, Tjahjo Kumolo (Sekjen PDIP saat itu) bahkan bisa juga Megawati Soekarnoputri sebagai tersangka karena Hasto tidak berdiri sendiri melainkan menjalankan misi PDIP.