KPU Dituding Jadi “Pemain” Uang, Ferry: Tolong Jangan Dipukul Rata!

Foto: Sayangi.com/dok

Jakarta, Sayangi.com – Permainan politik uang dalam pemilihan umum dianggap sudah tak perlu lagi dipertanyakan. Pasalnya saat ini fenomena tersebut tidak hanya dilakukan kontestan Pemilu, tetapi juga pelaksananya, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tudingan tersebut diungkapkan salah satu peserta dalam Diskusi Publik yang digelar Departemen Politik dan Pembangunan Demokrasi Majelis Nasional KAHMI di KAHMI Center, Jakarta, Jumat (6/3/2015).

Disebutkan bahwa KPU dari tingkat pusat hingga daerah dapat “dibeli” dengan uang.

Menanggapi tudingan tersebut, anggota KPU Pusat Ferry Kurnia membantahnya. Tuduhan tersebut kata Ferry tidak bisa disamaratakan kepada seluruh anggota KPU.

“Tolong jangan sampai dipukul rata. Kalau ditanya apa ada, kita enggak tahu,” kata Ferry yang menjadi narasumber dalam acara tersebut.

Oleh karenanya, ia mempersilakn bila ada pihak baik kontestan Pemilu maupun lainnya merasa tidak puas dan menemukan pelanggaran untuk melaporkan kepada pihak berwenang.

“Ketika enggak puas, ada proses hukum. Kalau memang KPU-nya tidak independen, tidak integritas, laporkan,” tandasnya.

 

Selain Ferry, hadir sebagai pembicara lainnya dalam acara bertajuk “Telaah Kritis Revisi UU No.1 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota, Peluang dan tantangannya” tersebut, pengamat politik LIPI Siti Zuhro dan antropolog Rawa L. Amady.

 

Siti Zuhro mengatakan, persoalan politik uang memang bukan hal aneh. Menurutnya, dalam Pemilu 2014 banyak kompromi yang terjadi, sehingga mengakibatkan kuatnya “permainan” dalam pemilu.

 

“Saat ini terlalu banyak pemain ketimbang yang rela mempertahankan idealismenya,” kata mantan aktivis Korps HMI-wati yang akrab disapa Wiwieq ini.

http://www.examitpass.com/300-206.html