Hizbullah Kecam Serangan Saudi dan Sekutu ke Yaman

Foto: almanar

Beirut, Sayangi.com – Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah memprotes serangan Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman. Ia mengutuk “agresi Arab Saudi-Amerika Serikat” tersebut dan menegaskan, rakyat Yaman berhak membela diri dan akan menang.

Nasrallah menilai serangan Saudi dan sekutunya ke Yaman jelas-jelas agresi, dan itu dilakukan di saat mereka bungkam dan tak berkutik menyaksikan kekejaman Israel terhadap bangsa Palestina.

“Sekian dekade Arab tak pernah bergerak demi Palestina dan Lebanon sebagaimana mereka bergerak menyerang Yaman… ‘Badai Mematikan’ menerjang Yaman, sementara ketika Palestina terdera pendudukan dan penindasan selama sekian dekade, ‘badai atau bahkan semilir kematian’ tak pernah menerjang barang satu kali,” tegas Nasrallah, sebagaimana dilansir al-Mayadeen, Jumat malam (27/3).

“Badai Mematikan” (Asifah al-Hazm) adalah sandi operasi serangan militer koalisi Arab pimpinan Saudi anti Yaman yang dimulai sejak dini hari Kamis (26/3) dan sejauh ini telah menjatuhkan sekitar 100 orang, termasuk perempuan dan anak kecil.

“Agresi terhadap Yaman menjadi bukti baru bahwa Israel bukanlah musuh bagi sebagian negara Arab.Padahal seandainya Badai Mematikan mereka lancarkan terhadap Israel niscaya kami akan menjadi pasukan dalam badai itu,” ujar Nasrallah.

Lebih jauh, pemimpin pejuang Libanon anti Zionis Israel ini menegaskan, rakyat Yaman yang teraniaya dan tertindas berhak membela diri dan melawan sebagaimana yang mereka lakukan sekarang, dan akan merebut kemenangan.

Dia menilai alasan Saudi menyerang Yaman mengada-ada.

“Sebab negara-negara Arab tidak melakukan tindakan demikian untuk keadaan-keadaan serupa di Tunisia dan lain-lain dan tidak ada bukti bahwa situasi baru di Yaman mengancam keamanan Saudi dan Teluk,” terangnya.

Menurut Nasrallah, sebab sebenarnya perang Saudi dan sekutunya terhadap Yaman adalah kegagalan dan keputus asaan Riyadh terhadap kelompok-kelompok militan radikal takfiri yang didukungnya, dan ini mereka lakukan ketika “pemulihan Yaman dapat dilakukan melalui kanal dialog dan kesepakatan, bukan dengan Badai Mematikan.”

Nasrallah mengaku heran terhadap rezim Riyadh yang tiba-tiba berubah sikap dan kalap, sebab pimpinan gerakan Ansarullah (al-Houthi) telah mengirim perwakilannya di Saudi pasca kematian Raja Abdullah bin Abdulaziz. Selain itu, Ansarullah juga selalu menjalin komunikasi dengan Saudi maupun negara-negara Arab Teluk Persia lainnya.