Mensos: Merdeka Itu Bebas Dari Kemiskinan, Ketunaan dan Kebodohan

Foto: Sayangi.com/Emil

Jakarta, Sayangi.com – Perjuangan bangsa dalam menggapai kemerdekaan Indonesia, tidak lepas dari peran para pejuang yang rela berkorban, harta, benda serta jiwa. Sosok mereka patut menjadi tauladan dan idola bagi para penerus bangsa.

“Hakikat kemerdekaan mesti dimaknai sebagai kebebasan untuk menyatakan dan menentukan kehendaknya sendiri sebagai bangsa dan negara Indonesia yang terbebas dari tekanan pihak manapun,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa usai seminar usulan calon pahlawan Nasional Prof. KH. Anwar Mussadad di Gedung Aneka Bhakti, Kemensos Jakarta, Kamis (2/4).

Kini, di masa kemerdekaan,makna dari esensi kebebasan harus dimaknai positif dalam arti yang khusus, yaitu terbebas dari kemiskinan, ketunaan, serta kebodohan.
“Esensi fundamental adalah peran negara hadir untuk mengentaskan segenap rakyat dari kemiskinan, ketelantaran, ketunaan serta kebodohan,” tandasnya.

Namun, masih ada yang mempertanyakan dari hakikat nilai-nilai kebangsaan yang sudah dianggap tidak relevan. Sebenarnya, hal itu keliru dan karena tidak paham substansi nilai kepahlawanan.

“Jelas keliru kalau masih ada pihak mempertanyakan hakikat nilai-nilai kebangsaan. Karena anggapan itu mencederai sifat kepahlawanan bangsa Indonesia,” ujarnya.

Nilai-nilai kepahlawanan mesti menjadi milestone Indonesia yang dijunjung tinggi untuk selamanya. Sebab, implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dilakukan dalam bentuk cipta, rasa, dan karsa seiring perkembangan zaman.

“Maka jangan menganggap terlalu sederhana dalam memahami kepahlawanan dan kejuangan, karena secara universal keduanya bermakna keteladanan, keikhlasan, dan pengorbanan seperti yang diekspresikan para pejuang saat ini,” tandasnya.

“Saya mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang masih memiliki nurani untuk menggelorakan semangat kejuangan bangsa ini demi menyongsong kejayaan di masa depan,” ujarnya bangga.