JJ Rizal: Ahok Simbol Pemimpin Yang Mengkhianati Akar Demokrasi

Foto: Sayangi.Com/Emil

Jakarta,Sayangi.Com– Sejarawan JJ Rizal menyatakan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membangun struktur berpikir dan bertindak yang berbahaya karena bukan hanya sering melontarkan ucapan kasar, tetapi ia juga bergaya sok kuasa dan tidak mau mengedepankan dialog yang merupakan akar dari demokrasi.

“Ahok adalah simbol pemimpin yang mengkhianati akar demokrasi,” kata JJ Rizal, dalam diskusi bertema “Menata Jakarta yang Berkeadilan dan Berkemanusiaan” yang diselenggarakan Gerakan #Lawan Ahok di Jl. Tebet Timur Dalam 43, Jakarta Selatan, Sabtu (5/9) sore.

Diskusi yang dipandu oleh Ketua Gerakan Lawan Ahok Tegar Putuhena tersebut juga menampilkan sejumlah pembicara lainnya, yakni mantan anggota DPR Saleh Khalid, pegiat kebudayaan Ratna Sarumpaet, pengacara Razman A. Nasution, dan ketua Forum Rakyat Lieus Sungkharisma.

Menurut JJ Rizal, sejak zaman Belanda hingga pasca Kemerdekaan, hanya ada dua pemimpin Jakarta yang punya visi membangun Jakarta sebagai kota besar yang memanusiakan warganya. Dua orang itu adalah Ali Sadikin dan MH Thamrin. Pemimpin Jakarta lainnya memiliki mentalitas mirip Ahok, yakni menganggap remeh orang miskin dan main gusur dengan menggunakan bantuan aparat keamanan.

Karena itu, kata Rizal, saat Jokowi-Ahok mengkampanyekan jargon Jakarta Baru pada Pilgub Jakarta Tahun 2012, sebagian besar rakyat kecil di Jakarta mendukung dengan harapan akan ada perubahan. Konsep Jakarta Baru menawarkan konsep dialog, diskusi lintas kelas, menghindari kata penggusuran, dan sejumlah program yang mengedepankan partisipasi warga.

“Tapi semua janji kampanye itu kini tinggal janji. Paling parah adalah kasus Kampung Pulo, yang menampilkan kembali watak rezim lama yang main gusur dengan kekuatan aparat,” kata JJ Rizal.

Pedagang Glodok Kecewa

Ketua Forum Rakyat Lieus Sungkharisma, yang merupakan pendukung Jokowi-Ahok pada Pilgub Jakarta 2012, secara terbuka menyatakan rasa kecewa yang mendalam terhadap perilaku Ahok dalam memimpin Jakarta.

Menurut Lieus, rekan-rekannya sesama etnis Tionghoa, terutama yang menjadi pedagang di kawasan Glodok, awalnya merasa bangga melihat Ahok bisa menjadi pemimpin di Jakarta.

“Tapi sejak kasus Kampung Pulo, sikap para pedagang di Glodok sudah berubah, cukup sampai tahun 2017 saja lah,” katanya.

Lieus menyatakan mendukung penuh gerakan Lawan Ahok dan berharap di setiap kelurahan di Jakarta ada posko #Lawan Ahok. Ia berjanji akan kampanye ke pelosok Jakarta untuk menggalang kekuatan melawan kesewenang-wenangan Ahok.