Rupiah Terus Melemah, Sampai Level Berapa Ekonomi Indonesia Bertahan?

Foto: Sayangi.Com/Emil

Jakarta, Sayangi.Com– Rupiah terus melemah terhadap Dolar AS, lalu sampai level berapa ekonomi Indonesia mampu menahan pelemahan Rupiah? Inilah salah satu pertanyaan yang muncul dalam diskusi “Memotret Krisis Indonesia” yang diselenggarakan Grup Diskusi Indonesia di Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta, Kamis (10/9).

Dalam diskusi round table yang dipandu Bursah Zarnubi itu hadir para tokoh seperti mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo B. Sulisto, anggota Wantimpres Soeharso Monoarfa, peneliti LIPI Siti Zuhro, Yasraf Amir Piliang, Ketua BPP HIPMI Bahlil Lahadalia, mantan Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, Arief Budimanta, Uncu Natsir, Erlangga, Ichan Loulembah, Djoko Edhie Abdurrahman, Ariady Achmad, Muchtar Effendy Harahap, dan sejumlah tokoh lainnya.

Mengutip pendapat salah seorang profesor ekonomi dari Nanyang Technological University, Singapura, mantan menteri perindustrian Fahmi Idris mengatakan bahwa ekonomi Indonesia masih mampu bertahan sampai Rp25.000 per Dolar AS.

Itu berarti, dibandingkan dengan kurs rata-rata pada Januari 2015 yang berada di level Rp12.581 per Dolar AS, Rupiah mengalami penyusutan (depresiasi) sekitar 50 persen jika menyentuh Rp25.000 per Dolar AS. Pendapat profesor dari Nanyang University tersebut masih masuk akal, karena saat Indonesia mengalami krisis ekonomi pada 1998-1999, nilai tukar Rupiah merosot hingga 80 persen lebih yakni dari Rp2.400 per Dolar AS sampai ke puncak krisis mencapai Rp15.000 per Dolar AS.

Tetapi pendapat Fahmi Idris ini dibantah oleh Fuad Bawazier yang pernah menjadi menteri keuangan di era Presiden Soeharto. Menurut Fuad, berdasarkan stress test yang dilakukan oleh sejumlah bank, ekonomi Indonesia akan kolaps jika nilai tukar Rupiah menembus Rp15.000 per Dolar AS.

“Pendapat profesor dari Nanyang University itu harus diragukan,” kata Fuad Bawazier.

Manakah dua pendapat tersebut yang benar? Yang pasti, semua peserta diskusi yang hadir dalam diskusi tersebut, tidak ada yang berani memprediksi sampai level berapa Rupiah akan melemah terhadap Dolar AS.

“Ini sulit diprediksi karena masalahnya bukan hanya fundamental ekonomi, tapi di dalamnya ada masalah trust, masalah psikologis, ditambah spekulasi. Kita berharap saja bahwa paket kebijakan yang sudah diumumkan Pemerintah segera diimplementasikan dan bisa menumbuhkan sentimen positif terhadap pasar,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo B. Sulisto.