Darmin: September Deflasi 0,05%, Bukan Berarti Ekonomi Membaik

Foto: Setkab.go.id

Jakarta, Sayangi.Com– Tidak seperti bulan Agustus lalu yang mencatat inflasi 0,39%, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada September 2015 ini terjadi deflasi sebesar 0,05%.

Menanggapi pengumuman BPS itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution meminta agar tidak buru-buru mengartikan bahwa deflasi itu terjadi karena ekonomi membaik.

“Sebetulnya harus dilihat deflasinya karena apa, di satu pihak kedengaran bagus tapi sebetulnya di pihak lain pertanda bahwa permintaan juga sedang melambat di dalam ekonomi,” kata Darmin Nasution kepada wartawan, di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (1/10).

Menurut Darmin, berita bagusnya adalah harga pangan dapat dikendalikan, sedangkan berita tidak bagusnya mungkin karena permintaan melambat.

Darmin mengingatkan perlunya kita mempelajari, mencermati tren ini . “Jadi kita tidak bisa membanggakan sebagai keberhasilan, karena ada positif ada negatifnya,” pungkasnya.

Bahan Makanan dan Transportasi Turun

Sebelumnya, Kepala BPS Suryamin mengumumkan bahwa pada September 2015 terjadi deflasi 0,05 persen. “Deflasi terjadi karena ada penurunan harga beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 1,07%, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,40%,” kata Suryamin saat jumpa pers, di kantor BPS, Jakarta, Kamis (1/10).

Sedangkan kelompok yang mengalami kenaikan indeks, kata Suryamin, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,39%; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,20%; kelompok sandang 0,83%; kelompok kesehatan 0,44%; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,89%.

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada September 2015 antara lain: daging ayam ras, cabai merah, tarif angkutan udara, bawang merah, cabai rawit, minyak goreng, bensin, telur, ayam ras, jengkol, dan kangkung.

Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga, di antaranya: beras, uang kuliah akademi/PT, emas perhiasan, wortel, bawang putih, mie, nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok kretek filter, tarif kontrak rumah, tarif sewa rumah, upah pembantu rumah tangga, dan mobil.

Terjadinya deflasi di bulan September itu, menurut Suryamin, menunjukkan setelah melewati musim Ramadhan dan Lebaran, kontrol pemerintah dalam mengendalikan harga sudah cukup bagus.

Dengan deflasi 0,05% pada September 2015 itu, maka tingkat inflasi tahun kalender (Januari–September) 2015 adalah 2,24% dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2015 terhadap September 2014) adalah 6,83%.